• About UGM
  • Portal Academic
  • IT Portal
  • Library
  • LPPM
  • Email
Universitas Gadjah Mada Center for Population and Policy Studies
Universitas Gadjah Mada
  • About CPPS
    • About CPPS UGM
    • Organizational Strucrure
    • Researcher
    • Partner
    • Facilities
  • Events
    • Conference
    • Seminar
    • Training
    • Workshop
  • Publication
    • Journal Population
  • Media
    • Press Release
    • Essay & Opinion
    • Gallery
    • Media Archives
  • Contact Us
  • Home
  • Media
  • Berita PSKK

Nila Moeloek: Tanpa SDM Berkualitas, Pembangunan Tidak Bisa Dicapai

  • Berita PSKK, Events, Media, Media, Seminar
  • 18 April 2013, 14.07
  • By : admin

YOGYAKARTA, PSKK UGM – Senin (1/4) pukul 08.00 WIB, Prof. Nila F. Moeloek, dr.SpM (K), Utusan Khusus Presiden Republik Indonesia untuk MDGs hadir menyampaikan orasi ilmiahnya. Tema yang diangkat, “Hambatan dan Tantangan dalam Pencapaian MDGs di Indonesia”. Bertempat di Ruang Auditorium Gedung Masri Singarimbun, Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada, acara merupakan bagian dari serangkaian kegiatan HUT 40 Tahun PSKK UGM.

“PSKK UGM berdiri sejak 1 April 1973, dan merupakan pusat studi paling tua memang di UGM. Hingga kini, kami telah banyak bekerja sama dan bermitra dengan pemerintah pusat, kementerian serta lembaga-lembaga baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Tema orasi ilmiah kali ini adalah soal MDGs. Jadi kita ingin mengetahui apa kebijakan pemerintah serta capaiannya, kemudian apa tantangan serta hambatannya selama kita mengimplementasikan MDGs,” ujar Dr. Agus Heruanto Hadna, M.Si., Kepala PSKK UGM.

Dalam pembukaan rangkaian kegiatan Indonesia Millenium Development Goals (MDGs) Awards, beberapa waktu lalu di Bali, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan tiga pilihan tentang agenda pembangunan untuk melanjutkan MDGs yang berakhir pada 2015. Pertama, tetap mempertahankan sekaligus mempertajam indikator-indikator dari kedelapan sasaran MDGs. Kedua, menambah target atau sasaran MDGs, dan ketiga adalah merombak secara keseluruhan sasaran dalam MDGs.

Hadna menambahkan, ada wacana mengenai Sustainable Development Goals (SDGs), yakni sasaran pembangunan berkelanjutan yang mulai dibicarakan. Ini tentu akan menjadi tantangan besar bagi semua pihak pasca MDGs. “Kami dari PSKK UGM juga berkomitmen bahwa MDGs harus kita capai. Hanya saja, ada beberapa catatan besar terkait persoalan kependudukan yang perlu kita cermati. Angka fertility rate kita baik nasional maupun Yogyakarta menunjukkan kenaikan. Artinya, pertambahan jumlah penduduk yang cukup banyak tentu menimbulkan implikasi besar pula. Maka komitmen kami adalah pada pembangunan manusia, pendidikan, dan kesehatan.”

Orasi Ilmiah MDGs Oleh Prof. Nila F. Moeloek

Tahun 2015 merupakan tenggat waktu bagi pencapaian Millenium Development Goals (MDGs). Hingga kini, pencapaian MDGs di Indonesia memang menunjukkan kemajuan yang signifikan. Human Development Indeks atau HDI Indonesia misalnya, naik dari peringkat 124 di 2011 menjadi peringkat 121 di 2013. Meski demikian, semua pihak masih harus bekerja ekstra keras untuk pencapaian MDGs terutama dalam penurunan angka kematian ibu, penanggulangan HIV/AIDS, serta akses terhadap air bersih dan sanitasi layak.

Waktu pencapaian tujuan MDGs kurang dari tiga tahun. Pada 1 Juli 2012 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian membentuk High Level Panel of Eminent Persons on Post-2015 Development yang memiliki tiga orang co-chairs. Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono adalah salah satu co-chairs selain Perdana Menteri Inggris, David Cameron, dan Presiden Liberia, Ellen Johnson Sirleaf. Ketiganya bertugas untuk merumuskan agenda pembangunan dunia pasca MDGs 2015.

“Kini dunia mulai berpikir apa yang bisa dilakukan lagi. Sebenarnya saya pun mengkritik PBB. Komitmen ini kita ketahui bersama, tidak pernah ada yang selesai. Mungkin kita pun masih ingat soal health for all atau education for all (EFA). Apakah selesai? Apakah semua penduduk di dunia saat ini telah bersekolah? Tidak juga. Pasca MDGs, saya menganggap persoalan kita masih di seputar ini juga, tak akan jauh berbeda. Ya, kita semua ingin sejahtera. Tidak ada manusia yang tidak ingin sejahtera,” ujar Nila.

Sebenarnya pemerintah tidak dapat mengerjakan semua program-program capaian. Pemerintah itu lebih bersifat top down, melakukan regulasi dan kebijakan. Maka, masyarakat yang berada di basis juga perlu untuk bergerak. Nila dalam orasi ilmiahnya kemudian menekankan soal peran populasi dalam mewujudkan human capital yang unggul untuk pembangunan menuju bangsa cerdas. Fakta menunjukkan, tanpa sumber daya manusia, populasi, dan tenaga kerja di bidang formal maupun informal yang berkualitas, niscaya peningkatan pembangunan ekonomi serta bidang lainnya tidak mungkin dicapai sesuai harapan.

“Human capital ditentukan oleh faktor pengungkit awal yang dapat memberi percepatan pembangunan, yakni kesehatan dan perempuan. Kesenjangan dalam bidang kesehatan diakui menjadi faktor penghambat kemajuan dalam mencapai kesejahteraan masyarakat domestik, regional, bahkan global. Kesehatan pun harus dimulai dari hulunya, yakni ketahanan pangan dan perempuan berpengetahuan,” ujar Nila.

Pendidikan harus dipersiapkan, dan diutamakan bagi kaum perempuan. Nila menambahkan, kaum perempuan harus berpengetahuan; tahu cara mendidik anak, tahu menjaga kesehatan anak, dan dirinya sendiri, serta paham perencanaan keluarga seperti menata keuangan keluarga dengan efisien dan efektif, selain turut serta membangun lingkungan hidup agar pembangunan menjadi berkelanjutan. [] Media Center PSKK UGM

Tags: Human Capital Kebijakan Kependudukan Masri Singarimbun MDGs Nila F Moeloek PBB PSKK SDGs UGM

Related Posts

Resounding the PHBS Movement during the COVID-19 Pandemic | By: Sri Purwatiningsih

ArticleEssay & OpinionMain SlideMedia Monday, 31 August 2020

The Clean and Healthy Behavior (Bahasa Indonesia: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat/PHBS) movement is currently being promoted as the way to prevent society from COVID-19. The world has struggled t overcame the COVID-19 for more than half a year and WHO has even declared the COVID-19 a global pandemic since March 11, 2020. The term pandemic refers to a disease that spreads to many people in several countries at the same time. The number of the spread of COVID-19 has significantly increased and globally. As long as the vaccine has not been found, the efforts to reduce the spread and prevention of COVID-19 are to implement the PHBS.

Vulnerable Groups and COVID-19 in Indonesia: Informal Sector, Disability, and Women

CPPS' NewsInformationMain SlidePress Release Wednesday, 5 August 2020

The Indonesia Statistics Agency recorded the poverty rate as of March 2020 increased to 26.42 million people. Regarding this position, the percentage of poor people also rose to 9.78 percent as of March 2020. The increase in poverty rate reached 1.28 million people from the previous rate, 25.14 million people compared to the rate as of March 2019. The percentage of poor people also rose 0.37 percent from March 2019, which was only 9.41 percent.

Tahap Perumusan Masalah Berpengaruh Besar Pada Analisis Kebijakan

EventsMediaWorkshop Wednesday, 21 October 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Merumuskan masalah dan isu kebijakan merupakan tahap awal yang sangat berpengaruh dalam hampir seluruh proses analisis kebijakan. Kurang tepat atau salah dalam mengidentifikasi masalah, niscaya kebijakan yang dihasilkan pun tidak cukup […].

TANTANGAN BONUS DEMOGRAFI: Perlunya Respon Terhadap Persoalan Lansia dan Tenaga Kerja

Berita PSKKEventsMediaSeminarSiaran Pers Friday, 13 June 2014

Yogyakarta, PSKK UGM – Apa yang akan Anda lakukan saat lanjut usia nanti? Apa yang akan Anda lakukan saat memasuki masa pensiun kerja? Menjadi tua adalah kepastian.
Universitas Gadjah Mada

CENTER FOR POPULATION AND POLICY STUDIES

Universitas Gadjah Mada

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

Email: secretary_cpps@ugm.ac.id

Telp: (0274) 547867

Fax: (0274) 556563

Association and Partnership

Association

Partnership

  • Universities
  • Government
  • Private Companies
  • Non-governmental Organizations
  • Donor Institutions & UN Organizations

© 2017 Center for Population and Policy Studies Universitas Gajah Mada