• About UGM
  • Portal Academic
  • IT Portal
  • Library
  • LPPM
  • Email
Universitas Gadjah Mada Center for Population and Policy Studies
Universitas Gadjah Mada
  • About CPPS
    • About CPPS UGM
    • Organizational Strucrure
    • Researcher
    • Partner
    • Facilities
  • Events
    • Conference
    • Seminar
    • Training
    • Workshop
  • Publication
    • Journal Population
  • Media
    • Press Release
    • Essay & Opinion
    • Gallery
    • Media Archives
  • Contact Us
  • Home
  • Media

[MEDIA ARCHIVES] Yogya Kalahkan Bali dan Jakarta | Tribun Jogja

  • Media
  • 20 October 2015, 09.09
  • By : admin

Raih Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan Tertinggi

YOGYA, TRIBUN – Pengukuran Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK) di Indonesia, yang diumukan oleh BKKBN, Bappenas dan Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Minggu (18/10/2015), menunjukkan DIY berada pada peringkat pertama dengan nilai indeks, yakni 0,61. DIY mengalahkan Bali, dengan nilai indeks 0,59.

Di bawah Bali menyusul Bangka Belitung, DKI Jakarta, dan Jambi, dengan nilai indeks yang sama, yaitu 0,56. Hasil pengukuran indeks ini menunjukkan, provinsi dengan IPBK tinggi merupakan wilayah dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang juga tinggi peningkatan pada IPBK akan berpengaruh pula pada peningkatan IPM.

Pakar Kependudukan UGM, Dr Agus Joko Pitoyo MA, menuturkan, dalam konsep pembangunan manusia, IPM merupakan indikator untuk mengukur hasil atau output dari pembangunan. IPM memudahkan berbagai pihak dalam menilai keberhasilan pembangunan di masing-masing wilayah. Pada proses itu diperlukan pula indikator untuk memantau dan mengevaluasi proses atau jalannya pembangunan.

IPBK adalah indikator untuk mengukur proses tersebut. "Ini merupakan salah satu prinsip yang penting dalam penyusunan IPBK. Sebab, IPBK hanya dapat digunakan apabila memiliki korelasi dengan IPM," kata Agus kepada Tribun Jogja, Minggu (18/10).

Dia menambahkan, ada lima dimensi dalam pengukuran IPBK, diantaranya, dimensi partisipasi, dimensi keberlangsungan, dimensi prorakyat hingga dimensi integrasi dan kesetaraan. Untuk dimensi partisipasi, poin yang dinilai adalah partisipasi bidang pendidikan, kesehatan maupun ekonomi. Dimensi ini berangkat dari salah satu prinsip pembangunan berwawasan kependudukan bahwa penduduk adalah subyek atau pelaku pembangunan.

“Jika penduduk sebagai subyek, pelaku atau penggerak dari pembangunan, maka nilai luhur subyek tadi adalah partisipasi. Indikator penilaian terhadap partisipasi, kepedulian, dan keaktifan penduduk inilah yang perlu untuk diturunkan ke dalam variabel-variabel penyusun IPBK,” papar Agus.

Persentase pendidikan

Kemudian untuk dimensi prorakyat, lanjutnya, variabel yang diukur adalah persentase APBD bagi pendidikan dan kesehatan. DIY menempati urutan pertama untuk persentase APBD bagi pendidikan dengan nilai 45,63; sementara Papua Barat dan Gorontalo di dua urutan terakhir, dengan nilai masing-maisng 11,05 dan 11,02.

Agus menegaskan, angka minimal IPBK nasional sebesar 0,5 sebetulnya belumlah maksimal. Suatu indeks dapat disebut bagus apabila nilainya mendekati angka 1. Artinya, pembangunan berwawasan kependudukan di Indonesia juga belum optimal, masih dinilai setengah-setengah.

“Mulai tahun ini Badan Pusat Statistik yang bertugas untuk mencari data-data baru yang diperlukan untuk menghitung IPBK. Rencananya, indikator-indikator di dalamnya akan dilihat setiap dua tahun sekali,” imbuhnya.

Adapun menurut UU Nomor 52 Tahun 2009, ada tujuh prinsip dalam perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga. Dua di antaranya adalah integrasi kependudukan dalam pembangunan, yaitu kependudukan sebagai titik sentral kegiatan pembangunan dan pengintegrasian kebijakan kependudukan ke dalam pembangunan sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan hidup. [] mrf

*Sumber: Harian Tribun Jogja (19/10) | Ilustrasi penduduk JOGJA/onetimephotography.blogspot.com

Tags: Agus Joko Pitoyo demographic human development index People Centered Development People Centered Development Index process development

Related Posts

[Media Archives] Dana Desa Harus Bisa Bantu Ciptakan Lapangan Pekerjaan

Media Monday, 9 November 2015

YOGYAKARTA, (PRLM) – Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Agus Heruanto Hadna mengatakan, program dana desa yang digulirkan pemerintah seharusnya bisa membuka banyak lapangan pekerjaan apabila diarahkan untuk peningkatan pembangunan […].

[MEDIA ARCHIVES] Sebagian Besar Dana Remintansi TKI untuk Keperluan Sehari-hari

Media Thursday, 5 November 2015

NERACA, Jakarta – Dana remitansi yang dikirimkan oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Indonesia jumlahnya mencapai triliunan, namun sebagian besar dana tersebut hanya dikeluarkan untuk kebutuhan dasar atau kebutuhan sehari-hari.

[SIARAN PERS] PROSES PEMBANGUNAN KINI BISA TERUKUR: IPBK DIY Tertinggi Nasional

MediaPress Release Sunday, 18 October 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Pengukuran Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK) di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada menunjukkan, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada peringkat pertama dengan nilai indeks, 0,61.

[MEDIA ARCHIVES] INDEKS PEMBANGUNAN: Angka Harapan Hidup di DIY Tertinggi

Media Tuesday, 29 September 2015

YOGYAKARTA, KOMPAS – Angka harapan hidup di Daerah Istimewa Yogyakarta masih tertinggi dibandingkan dengan provinsi lain di Indonesia. Indeks jumlah pengeluaran uang sebagai indikasi kesejahteraan ekonomi juga termasuk tinggi, tetapi persentase penduduk miskin paling besar […].
Universitas Gadjah Mada

CENTER FOR POPULATION AND POLICY STUDIES

Universitas Gadjah Mada

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

Email: secretary_cpps@ugm.ac.id

Telp: (0274) 547867

Fax: (0274) 556563

Association and Partnership

Association

Partnership

  • Universities
  • Government
  • Private Companies
  • Non-governmental Organizations
  • Donor Institutions & UN Organizations

© 2017 Center for Population and Policy Studies Universitas Gajah Mada