Kurang Informasi, Masalah Kesehatan Reproduksi Remaja Tidak Bisa Diabaikan

11 May 2016 | admin
Media

Yogyakarta, PSKK UGM – Terbatasnya informasi mengenai kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual pada remaja mempengaruhi angka kehamilan, angka perkawinan, serta angka HIV dan AIDS pada remaja. Terlebih lagi, perilaku seksual berisiko di usia remaja cukuplah tinggi. Persoalan ini tentu saja tidak bisa diabaikan.

Hal itu disampaikan oleh Sri Purwatiningsih, M.Kes., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada dalam Diskusi Pemangku Kepentingan “Program Pembinaan Ketahanan Remaja untuk Menurunkan Kelahiran di Kalangan Remaja dan Pendewasaan Usia Perkawinan” yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Senin (9/5) di Hotel Amaroosa, Bekasi Barat.

Dalam presentasinya, Sri menyampaikan beragam situasi terkini seputar pernikahan, kelahiran, pengetahuan, dan akses remaja terhadap informasi, konseling, dan pelayanan kesehatan reproduksi.

Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007 menunjukkan, ketidaktahuan remaja terhadap dampak apabila mereka melakukan hubungan seksual, ternyata cukup besar, yakni 27,7 persen. Padahal, sebanyak 4,1 persen remaja sudah pernah melakukan hubungan seksual di dalam pacaran. Lalu, umur pertama kali melakukan hubungan seksual terbanyak antara 15 sampai 19 tahun, yakni sekitar 68,6 persen.

“Kurangnya pengetahuan seiring pula dengan sikap permisif mereka. Berangkat dari sumber data yang sama, remaja laki-laki umumnya cenderung lebih permisif dibandingkan dengan remaja perempuan,” kata Sri.

Sikap permisif berangkat dari rasa ingin tahu yang besar sehingga mengantarkan remaja pada tindakan coba-coba. Apabila dirinci lebih jauh, maka alasan sekedar ingin tahu sebesar 53,8 persen dan alasan coba-coba sebesar 32,7 persen. Adapun faktor utama yang mendorong sikap permisif remaja sebagian besar berangkat dari lingkungan pergaulannya. Biasanya, karena mereka memiliki teman-teman yang juga sudah pernah melakukan hubungan seksual. Faktor berikutnya adalah karena ada dorongan seksual.

Sementara itu, pengetahuan yang komprehensif mengenai HIV dan AIDS pada remaja juga rendah. Proporsinya hanya 10,6 persen pada laki-laki dan 10 persen pada perempuan. Di lain sisi, fakta menunjukkan bahwa angka kasus AIDS pada remaja juga tidak sedikit. Data Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan 2014 memperlihatkan ada 1.717 kasus AIDS pada kelompok umur 15-19 tahun dan 18.352 kasus pada kelompok umur 20-29 tahun.

“Masih banyak pekerjaan untuk memperhatikan aspek kesehatan reproduksi di kalangan penduduk usia muda. Pemerintah telah menetapkan target 2019 angka kelahiran perempuan usia remaja turun. Sayangnya yang terjadi justru peningkatan,” kata Sri lagi.

Target pemerintah yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2014-2019 salah satunya adalah menurunnya tingkat kelahiran perempuan usia 15-19 tahun dari 48 menjadi 38 per 1000 kelahiran pada 2019. Namun, agak berat mengingat pada kurun 2012-2015 justru ada peningkatan kelahiran di kalangan remaja. Bahkan sebuah studi yang dilakukan oleh Australia National University bersama Pusat Penelitian Kesehatan UI pada 2010 di Jakarta, Tangerang, dan Bekasi mengungkapkan, ada 3.006 responden remaja usia 17-24 tahun atau 20,9 persen diantaranya telah hamil dan melahirkan sebelum menikah.

Tingginya angka kelahiran pada remaja, rendahnya pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan reproduksi dan pendewasaan usia kawin, ditambah terbatasnya akses untuk mendapatkan informasi, konseling, dan pelayanan kesehatan reproduksi merupakan penanda bahwa program remaja masih belum maksimal.

Sebuah upaya bersama diperlukan untuk memperbaiki program baik berupa penajaman arah dan strategi serta sinergisitas di antara berbagai pemangku kepentingan yang terlibat. Apabila ini tidak dimulai, target nasional sulit tercapai sehingga berdampak pada target global, mengingat Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia.

Sebagai langkah awal, BKKBN bersama Bill and Melinda Gates Foundation (BMGF) melalui Johns Hopkins Center for Communication Programs (JHCCP) menyelenggarakan diskusi antarpemangku kepentingan program remaja. Diskusi ini guna mengembangkan program yang lebih fokus menjangkau sasaran, pesan yang tepat sesuai dengan keinginan remaja, menggunakan media yang tepat sesuai perkembangan teknologi, dan dapat membagi tugas antara pemerintah, NGO, CSO, dan organisasi di masyarakat lainnya.

“Saya hadir untuk memberikan informasi terkini soal remaja. Tak lain agar menjadi pembacaan atau gambaran bersama, memahami akar persoalan, sehingga bisa menentukan apa yang bisa dikerjakan kemudian,” jelas Sri. [] Media Center PSKK UGM | Photo penyuluhan kesehatan reproduksi di SMK 2 Sewon/gizitinggi.org