• About UGM
  • Portal Academic
  • IT Portal
  • Library
  • LPPM
  • Email
Universitas Gadjah Mada Center for Population and Policy Studies
Universitas Gadjah Mada
  • About CPPS
    • About CPPS UGM
    • Organizational Strucrure
    • Researcher
    • Partner
    • Facilities
  • Events
    • Conference
    • Seminar
    • Training
    • Workshop
  • Publication
    • Journal Population
  • Media
    • Press Release
    • Essay & Opinion
    • Gallery
    • Media Archives
  • Contact Us
  • Home
  • Media

KEPALA BKKBN: Perlu Perhatian untuk Mencetak Generasi Unggul

  • Media
  • 9 August 2014, 09.31
  • By : admin

JAKARTA, Sindo Radio – Jumlah anak usia lima tahun (balita) dan anak di Indonesia saat ini mencapai 47,3 juta jiwa. Jumlah yang banyak ini menjadi tantangan untuk meningkatkan kualitas anak dan di sisi lain anak menjadi potensi sumberdaya sebagai generasi unggul. Untuk itu, perlu menjadi perhatian semua pihak dalam mencetak generasi unggul tersebut.

“Untuk mencetak generasi unggul perlu pelayanan kebutuhan esensial anak yang dilakukan secara utuh termasuk kebutuhan perawatan dan pengasuhannya. Kondisi yang diharapkan adalah tercipta anak yang sehat dan cerdas menuju keluarga berkualitas,” kata Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Prof dr Fasli Jalal, PhD, SpGK di Jakarta, Rabu (6/8) menjelang Konferensi Pereca (Pacific Early Childhood Education Research Association) yang akan digelar di Bali.

Fasli Jalal selaku Ketua Perece (Konferensi Pendidikan Anak Usia Dini) ke-15 ini, menilai pendidikan usia dini memegang peranan penting dalam mencetak generasi unggul. Saat ini, anak-anak usia 0 hingga 3 tahun diharapkan mendapat pelayanan di keluarga dan Posyandu. Kini sudah ada sekitar 200.000 Posyandu.

“Posyandu sudah banyak yang melayani secara holistik integratif, balita yang tidak mempunyai akses sekolah di playgroup yang mahal atau yang ada di pedesaan, bisa dilayani di Posyandu yang sudah terintegratif. Untuk anak usia 3 hingga 6 tahun sudah 60 persen mengakses PAUD. Tahun 2015 seharusnya bisa mencapai 70 persen,” kata Fasli.

Berbagai topik soal pendidikan anak usia dini  akan dibahas dalam Konferensi Pereca bertema “hidup rukun melalui pendidikan anak usia dini dan perawatan” ini. Konferensi akan digelar di Grand Inna Bali, pada 8 hingga 10 Agustus 2014 dan diikuti sekitar 500 peserta yang terdiri dari para pemerhati bidang pendidikan anak usia dini. “Para peneliti dan pemerhati pendidikan ini akan saling berbagi ilmu dan pengetahuan terbaru dari hasil penelitian dalam dunia pendidikan anak usia dini,” ujarnya.

Para pemerhati dan peneliti tersebut berasal dari berbagai negara, antara lain, Indonesia, Jepang. Malaysia, Singapura, Thailand, Korea, Taiwan, Hongkong, China, Australia, New Zealand, USA, Inggris, Canada, Sri Lanka, India, Mongolia, Timor Leste, dan Filipina. Hal ini menjadi kesempatan besar bagi para pendidik PAUD untuk mentransfer pengetahuan dan ilmu yang mereka miliki, khususnya bagi pendidik  anak usia dini di Indonesia.

Rencananya peneliti dari Indonesia Gusnawirta akan mempresentasikan penelitiannya tentang Mother's The Savior of The Nation. Dalam penelitiannya, seorang ibu merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak, sekaligus sebagai role model bagi perilaku anak. Ibu juga berperan penting dalam memberikan stimulasi untuk kecerdasan otak anak, memberikan nutrisi yang tepat, lingkungan yang nyaman, perhatian, kasih sayang, dan mencontohkan perilaku yang baik bagi anak.

Dalam mendukung peran ibu untuk mendidik anak, peran seorang ayah juga menjadi penting untuk membentuk perilaku anak. Dukungan penuh dari ayah dan ibu akan membentuk perilaku positif dalam diri anak. Anak yang distimulasi dengan dukungan positif dari keluarganya, akan membentuk generasi penerus bangsa yang berkualitas. (ANP)

*Sumber: Sindo Radio | Foto: Istimewa

Tags: BKKBN Fasli Jalal generasi bangsa keluarga Konferensi Pereca PAUD pendidikan Pendidikan Anak Usia Dini posyandu

Related Posts

[SIARAN PERS] PROSES PEMBANGUNAN KINI BISA TERUKUR: IPBK DIY Tertinggi Nasional

MediaPress Release Sunday, 18 October 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Pengukuran Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK) di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada menunjukkan, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada peringkat pertama dengan nilai indeks, 0,61.

Revolusi Mental Ber-KB | Oleh: Razali Ritonga

Media Wednesday, 1 July 2015

Metrotvnews.com — PRESIDEN Jokowi tentang Revolusi Mental di harian Kompas (10/5/2014) menyebutkan bahwa hasil pembangunan yang belum optimal yang diselenggarakan pemerintah terutama diakibatkan mental bangsa yang belum berubah sejak era Orde Baru.

INFRASTRUKTUR PERTANIAN: Bangun Puluhan Waduk, Pemerintah Harus Minimalisir Risiko Negatif

Media Wednesday, 10 June 2015

Yogyakarta, PSKK UGM  — Berbicara tentang kebijakan pangan, ada tiga hal pokok pembahasan di dalamnya, yaitu food production, food distribution, dan food consumption—bagaimana pangan diproduksi, didistribusikan serta dikonsumsi.

Tingkat Kelahiran di Jakarta Beriringan dengan Angka Kemiskinan

Media Wednesday, 18 February 2015

JAKARTA, KOMPAS.com — Dibutuhkan setidaknya 10 tahun bagi Jakarta untuk menekan tingkat kelahiran dari 2,3 menjadi 2,0 (per 1.000 orang per tahun). Angka itu berbanding lurus dengan angka kemiskinan di Ibu Kota yang juga tergolong […].
Universitas Gadjah Mada

CENTER FOR POPULATION AND POLICY STUDIES

Universitas Gadjah Mada

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

Email: secretary_cpps@ugm.ac.id

Telp: (0274) 547867

Fax: (0274) 556563

Association and Partnership

Association

Partnership

  • Universities
  • Government
  • Private Companies
  • Non-governmental Organizations
  • Donor Institutions & UN Organizations

© 2017 Center for Population and Policy Studies Universitas Gajah Mada