• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

KELUARGA BERENCANA DIGALAKKAN KEMBALI: Dorong Kualitas Sumber Daya Manusia

  • Media
  • 4 Maret 2014, 13.53
  • Oleh : admin

Palembang, KOMPAS – Pemerintah berjanji akan menjadikan masalah kependudukan sebagai prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015-2019. Langkah ini untuk mengoptimalkan manfaat bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia hingga 2035.

Salah satu persoalan kependudukan yang bakal mendapat perhatian utama adalah pengendalian jumlah kelahiran atau selama ini dikenal sebagai program Keluarga Berencana (KB).

“Program kependudukan harus benar-benar diperhatikan karena akan menjadi kunci mencapai bonus demografi,” kata Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Armida S. Alisjahbana di sela-sela penjaringan aspirasi terkait dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, Senin (3/3), di Palembang, Sumatera Selatan.

Bonus demografi adalah kondisi saat jumlah penduduk usia nonproduktif lebih sedikit daripada jumlah penduduk produktif (usia 15-65 tahun). Pada kondisi itu, ketergantungan penduduk usia nonproduktif terhadap penduduk produktif berada pada titik rendah sehingga perekonomian suatu negara berpotensi berkembang lebih cepat.

Sejak 2012, berdasarkan data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka ketergantungan penduduk berada di bawah 50, tepatnya 49,6. Artinya, setiap 100 penduduk produktif menanggung 49,6 penduduk nonproduktif. Angka ketergantungan tahun ini 48,8.

“Kalau angka ketergantungan sudah berada di bawah 50, sebenarnya kita sudah bisa dikatakan menikmati bonus demografi. Oleh karena itu, sejak 2012, kita sudah menikmati bonus demografi,” ujar Armida.

Namun, dia mengingatkan, bonus demografi akan optimal jika tingkat ketergantungan bisa terus diturunkan. Untuk mencapai hal itu, ada beberapa hal yang haurs diperhatikan. Salah satunya adalah jumlah rata-rata anak yang dilahirkan oleh wanita subur (total fertility rate/TFR). Pada 2010, TFR Indonesia adalah 2,49 dan kondisi itu tak berubah hingga saat ini.

Armida menambahkan, angka ketergantungan di Indonesia akan mencapai titik terendah pada 2028-2035. Saat itu, angka ketergantungan di Indonesia hanya 46,9. Untuk mencapai kondisi itu, Indonesia harus bisa menurunkan TFR menjadi 2,14 pada 2025.

“Selama beberapa tahun terakhir, angka TFR kita stagnan. Setelah ini, kita harus berhasil menurunkan TFR,” kata Armida. Untuk mencapai hal itu, masalah kependudukan akan menjadi salah satu prioritas dalam RPJMN 2015-2025.

Menurut Armida, RPJMN 2015-2025 akan mencantumkan upaya revitalisasi BKKBN sebagai lembaga pengelola masalah kependudukan. Sejak masa reformasi, sejumlah kewenangan BKKBN dipangkas sehingga program kependudukan tak efektif. “Selain itu, program Keluarga Berencana akan kembali digalakkan,” ujarnya.

Kualitas SDM

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor, Akhmad Fauzi mengatakan, langkah lain untuk mengoptimalkan bonus demografi adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Peningkatan kualitas itu bisa dengan pemerataan pendidikan dan pelatihan keterampilan kerja.

Dari Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) pada 2013, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia ada di peringkat ke-121 dari 186 negara. “Indonesia bahkan berada di bawah Honduras dan Botswana,” kata Fauzi.

Secara terpisah, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi mengatakan, dalam situasi saat ini, pemerintah harus mengedepankan kualitas pendidikan dan keahlian angkatan kerja. Saat ini, dunia usaha baru mampu menyediakan 1 juta-1,5 juta lapangan kerja per tahun sehingga tidak mampu menyerap 2,5 juta angkatan kerja baru setiap tahun.

“Ada 1 juta orang yang tidak mendapatkan pekerjaan setiap tahun dan sebagian besar tidak terampil. Bonus demografi ini harus ditangani secara cermat dengan meningkatkan kualitas sistem pendidikan dan pelatihan kerja,” kata Sofjan.

Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Lampung Bustanul Arifin mengungkapkan, masa depan perekonomian adalah ekonomi berbasis ilmu pengetahuan. Ini menjadi keniscayaan dan harus memanfaatkan bonus demografi.

Di sektor pertanian terjadi surplus tenaga kerja. Tantangannya, bagaimana membangun industri pengolahan berbasis pertanian dan sumber daya alam Indonesia agar bisa menarik tenaga kerja dari sektor pertanian.

Untuk mengembangkan industri tersebut, perlu basis ilmu pengetahuan. Itu yang menjadi kata kuncinya. Ke depan, perekonomian akan ditopang oleh pekerja terampil dan bekerja di sektor industri dengan pendapatan yang lebih baik dan produktivitas tinggi. “Para pekerja terampil itu nanti yang akan menggenjot produktivitas,” kata Bustanul.

Dengan cara itu, menurut Bustanul, sektor pertanian akan berperan penting dalam melepaskan Indonesia dari middle income trap dan memanfaatkan bonus demografi.

Tak ada pilihan lain untuk memanfaatkan bonus demografi selain memajukan pendidikan dan riset. Tidak hanya di perkotaan, tetapi juga harus sampai di pedesaan. Anggaran pendidikan yang tinggi adalah langkah yang tepat, tinggal implementasinya. [] HRS/MAS/EVY/HAM/LAS

*Sumber: Headline Harian KOMPAS, 4 Maret 2014 | Sumber foto: ANTARA

Tags: Armida S Alisjahbana BKKBN bonus demografi IPM keluarga berencana Kependudukan keterampilan kerja pendidikan penduduk usia produktif riset RPJMN 2015-2019 TFR

Related Posts

Polemik Miras DI Yogyakarta: Perbedaan Persepsi dan Regulasi Usang di Era Digital

Berita PSKKInformasiMain SlideMediaSiaran Pers Selasa, 29 Juli 2025

PSKK UGM – Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM mengadakan audiensi hasil riset terkait polemik miras – minuman keras – di Yogyakarta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DI Yogyakarta pada Senin, 28 Juli […].

Penerapan Model Bayesian pada Proyeksi Penduduk dan Implikasinya Terhadap Perubahan Struktur Umur Penduduk Indonesia 2015-2045

Buku Senin, 26 Mei 2025

Buku ini diantaranya membahas pergeseran dari perspektif deterministic menuju ke perspektif probabilistic dan model proyeksi penduduk bayesian.

Penanggulangan Kemiskinan – Belajar dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)

Buku Senin, 26 Mei 2025

Terdapat catatan untuk perbaikan terkait dengan distribusi kartu. Persoalan identitas penerima menjadi kendala pokok dalam proses distribusi kartu dana BSM.

Pakar PSKK UGM dan Aktivis Gender Ungkap Peran Penting Gerakan Anak Muda di Ruang Digital Terkait Kasus Kekerasan Seksual 

Berita PSKKInformasiKegiatanKonferensi / SeminarMain SlideSiaran Pers Rabu, 20 Desember 2023

Yogyakarta – Pada dua dekade terakhir isu-isu gender seperti kekerasan berbasis gender, politik seksual, kesehatan mental, seksual, dan reproduksi menemukan fokus baru di dunia digital sehingga terjadi perubahan bentuk, modus, dan aktornya.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada