Yogyakarta – Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Basilica Dyah Putranti, menyoroti masih banyaknya anak muda usia 15 hingga 24 tahun yang tidak bersekolah, tidak bekerja, maupun tidak mengikuti pelatihan.
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), pada Agustus 2024 tercatat ada 8,99 juta anak muda Indonesia berusia 15-24 tahun yang tidak sekolah, tidak bekerja, dan tidak mengikuti pelatihan. Secara rinci, pada usia 15-19 tahun ada 3,26 juta anak; dan 20-24 tahun ada 5,73 juta jiwa yang berstatus NEET (Not in Education, Employment, or Training).
“Usia 15 sampai 24 tahun itu banyak yang tidak bersekolah atau tidak bekerja, dan atau tidak ikut pelatihan. Artinya sebagian dari anak-anak itu tidak terserap dalam pasar tenaga kerja atau tidak terserap dalam pembangunan ekonomi,” papar Basilica dalam Podcast Popcorn (Population Corner) PSKK UGM yang tayang di YouTube CPPS UGM.
Basilica juga turut mempertanyakan aktivitas kelompok usia tersebut. “Pertanyaannya (anak kelompok ini) pada ke mana? Apakah mereka menganggur, atau mereka bekerja di sektor informal yang tidak teraba seperti bekerja dalam dunia digital atau gig economy yang mana anak bisa saja bekerja secara online tapi tidak terdeteksi. Nah, ini yang yang menjadi tantangan untuk anak yang nantinya akan menjadi investasi di masa depan,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan bahwa anak perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang karena akan menjadi bagian dari kelompok usia produktif dan menjadi landasan keberlanjutan kehidupan masyarakat Indonesia di masa mendatang. Anak tidak boleh hanya dipandang semata-mata sebagai angka dalam statistik kependudukan, melainkan sebagai human capital yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
“Anak harus kita pandang sebagai seseorang yang punya keahlian dan potensinya yang harus diasah untuk menjadi manfaat bagi keberlanjutan,” ujar Basilica.
Berdasarkan data BPS 2026, persentase penduduk usia anak mencapai hampir 30 persen. Artinya ada sekitar 88,81 juta penduduk yang berusia 0-17 tahun dari total 287,1 juta jiwa penduduk Indonesia yang tercatat di BPS.
Selain menyoroti banyaknya anak muda yang tidak terserap tenaga kerja, Basilica juga menyampaikan tantangan lainnya bagi pengembangan anak, yakni pada aspek pendidikan dan kesehatan. Ia memaparkan berdasarkan hasil riset PSKK UGM, layanan kesehatan di DKI Jakarta dan DI Yogyakarta memang telah cukup baik.
Misalnya prevalensi stunting di DKI Jakarta ada di angka 17,2 persen dan di Yogyakarta mencapai 17,4 persen. Selain itu angka kematian bayi juga menurun di dua kota tersebut. Artinya sejumlah persoalan kesehatan dasar anak di Jakarta dan DIY relatif tertangani.
Meski demikian, Basilica menekankan bahwa kondisi di dua kota tersebut tidak menggambarkan situasi di seluruh wilayah Indonesia. Ia menyoroti masih ada kesenjangan akses terhadap layanan kesehatan, khususnya bagi anak-anak di daerah tertinggal.
Pada aspek pendidikan, peneliti PSKK UGM ini menjelaskan bahwa angka partisipasi sekolah di Jakarta dan DIY tergolong tinggi. Namun ia melihat adanya titik rawan pada kelompok usia sekolah menengah atas, yakni 16–18 tahun di mana angka partisipasi sekolah menurun.
“Ini harus kita waspadai, karena justru saat anak-anak memasuki usia produktif, mereka malah tidak cukup mendapatkan ruang untuk mengembangkan dirinya melalui akses pendidikan,” tegasnya.
Selain membahas tantangan dalam hal akses kesehatan dan pendidikan anak yang belum merata serta banyaknya anak usia produktif yang tidak terserap pasar kerja, Basilica juga menyoroti bahwa dalam membentuk kebijakan yang berkenaan dengan anak, misalnya dalam mewujudkan ‘Kota Ramah Anak’ hendaknya anak juga dilibatkan secara langsung dalam pembuatan konsepnya.
“Misalnya untuk mendesain kota ramah anak, ya sudah seharusnya anak-anak itu dilibatkan dalam forum, tidak kemudian hanya dijadikan sasaran saja,” ujar Basilica.
Ia juga memaparkan temuan riset PSKK UGM di Jakarta. Bahwa saat wawancara langsung dengan perwakilan anak yang terlibat dalam forum anak, anak-anak mengatakan hal berikut:
“Oke kota layak anak itu bagus konsepnya, tapi enggak cukup, karena kita mau keluar dari gedung saja lalu lintasnya sudah ruwet begitu, itu kan tidak cukup melindungi anak. Trotoar yang belum ramah anak, transportasi umum yang belum ramah anak, itu belum ramah anak kotanya”.
Artinya, menurut Basilica, anak-anak memiliki konsep tersendiri terkait Kota Ramah Anak. “Sehingga refleksi untuk kita adalah bagaimana konsep Kota Ramah Anak ini benar-benar membumi dan bermakna untuk anak,” ujarnya.
Ia mengaitkan hal tersebut dengan kampanye Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI) yang mendorong kesetaraan gender, penghormatan terhadap penyandang disabilitas, serta inklusi sosial dalam berbagai aspek kehidupan.
“Poin kita dalam memaknai inklusivitas adalah bagaimana kemudian kita dapat memperhatikan apa yang dipikirkan oleh anak-anak,” pungkas Basilica.
Selengkapnya pembahasan terkait hal ini dapat Anda saksikan pada podcast PopCorn bertajuk, “Anak Sebagai Penduduk Masa Depan: Antara Kerentanan dan Ketangguhan” di kanal YouTube CPPS UGM bersama dua peneliti PSKK UGM Basilica Dyah Putranti, M.A. dan Igih Adisa Maisa, M.Sc.
Penulis: Nuraini Ika P.
Foto: PSKK UGM/Asrip Media