• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

TAJUK RENCANA KOMPAS: Manfaatkan Peluang Emas

  • Media
  • 14 Maret 2014, 07.59
  • Oleh : admin

Jakarta, KOMPAS – Indonesia akan tumbuh sesuai potensinya jika pemerintahan baru hasil Pemilu 2014 mampu memanfaatkan peluang emas di dalam dan luar Indonesia.

Potensi yang dimaksud adalah pertumbuhan ekonomi di atas 10 persen melalui industri manufaktur padat karya dan pada saat yang sama meningkatkan kesejahteraan 40 persen penduduk Indonesia yang masih masuk kategori miskin dengan memberi lapangan kerja di sektor formal.

Optimisme itu disuarakan Guru Besar Ekonomi (Emeritus) Universitas Boston Gustav Papanek yang melakukan penelitian bersama Raden Pardede dari CReco Institute dan Prof Dr Suahasil Nazarra dari Universitas Indonesia.

Peluang itu datang dari luar. Ekonomi China tumbuh melalui kebijakan yang konsisten membangun industri manufaktur padat karya untuk menyerap tenaga kerja dengan berbagai tingkat keterampilan. Ketika upah pekerja semakin mahal dan bonus demografi menurun, daya saing produk ekspor China berkurang.

Peluang emas tersebut harus direbut Indonesia saat ini juga karena peluang itu pun diincar negara lain dengan situasi mirip Indonesia, seperti Banglades dan India.

Pada saat yang sama Indonesia juga menikmati bonus demografi sejak 2012. Namun, tingkat keterampilan penduduk produktif kita beragam. Sekitar separuhnya berpendidikan SMP atau kurang.

Bukan hal berlebihan apabila industri manufaktur berorientasi ekspor dan pasar dalam negeri diproyeksikan tumbuh 19 persen per tahun seraya menyerap 11,2 juta tenaga kerja dalam lima tahun ke depan. Industri manufaktur kita pernah tumbuh 34 persen pada 1986-1992.

Apa yang disampaikan Papanek dan kawan-kawan mempertegas hal yang berulang kali dibahas dalam berbagai forum di dalam negeri. Industrialisasi hampir mandek setelah tahun 1998, bahkan sumbangan industri manufaktur terhadap ekonomi nasional pada 2012-2013 minus. Indonesia terlalu bergantung pada ekspor komoditas. Jatuhnya harga di pasar dunia tahun lalu ikut memukul neraca perdagangan.

Tuntutan untuk memperluas basis pembayar pajak dan mengurangi subsidi bahan bakar untuk memperluas ruang fiskal bagi pembangunan infrastruktur, kesehatan, dan pendidikan, juga bukan hal baru.

Dengan adanya bonus demografi, mudah bagi ekonomi Indonesia tumbuh di atas lima persen per tahun. Namun, pertumbuhan itu tidak cukup dan kurang berkualitas. Banyak tenaga kerja tidak produktif akibat tak tersedia lapangan kerja berpendapatan layak. Ketimpangan kemakmuran membesar, produk Indonesia makin tidak kompetitif di dalam negeri dan pasar dunia, serta Indonesia kehilangan kesempatan masuk menjadi negara kaya.

Indonesia butuh pertumbuhan berkualitas. Itu hanya dapat dicapai apabila Pemilu 2014 menghasilkan pemimpin yang mampu dan berani mengambil strategi pembangunan berorientasi penciptaan lapangan kerja dan pemerataan. []

  *Sumber: Harian KOMPAS, 14 Maret 2014 | Sumber foto: berita.plasa.msn.com  

Tags: bonus demografi Indonesia industri manufaktur lapangan kerja padat karya pertumbuhan ekonomi strategi pembangunan tenaga kerja

Related Posts

[Media Archives] Dinamika Gender dalam Industri Rokok di Indonesia

Media Kamis, 4 Februari 2016

Yogyakarta, UGM – Di balik tingginya tingkat konsumsi rokok di Indonesia, terdapat industri bernilai ratusan juta dolar dengan ratusan ribu orang yang menggantungkan kehidupan mereka pada industri ini.

[Media Archives] Program Rutin Gagal Atasi Ketimpangan dan Kemiskinan

Media Kamis, 17 Desember 2015

KORAN JAKARTA – Pemerintah diminta menyusun kebijakan yang komprehensif untuk menyelesaikan akar masalah struktural perekonomian terutama ketimpangan pendapatan dan kemiskinan. Pasalnya, selama ini pemerintah cenderung hanya mengandalkan cara mudah dengan menggelar program rutin yang terbukti […].

[Media Archives] Disparitas Pendapatan Picu Kerawanan Sosial

Media Selasa, 15 Desember 2015

Indikator Pembangunan – Lapangan Kerja Sempit, Bonus Demografi akan Mubazir KORAN JAKARTA – Sejumlah kalangan menilai ketimpangan pendapatan yang masih relatif tinggi di Indonesia dalam 10 tahun terakhir, terutama dipicu oleh disparitas atau kesenjangan kesempatan […].

[Media Archives] Ketimpangan Pendapatan Jadi Ancaman Serius bagi Ekonomi RI

Media Senin, 14 Desember 2015

Indikator Pembangunan | Pertumbuhan Hanya Dinikmati Orang Kaya KORAN JAKARTA – Ketimpangan pendapatan di Indonesia dinilai bakal menjadi ancaman serius bagi perekenomian bangsa selama strategi pembangunan nasional masih mengandalkan pertumbuhan sebagai target utama pengukuran kinerja […].
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada