• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

[Media Archives] Program Rutin Gagal Atasi Ketimpangan dan Kemiskinan

  • Media
  • 17 Desember 2015, 08.48
  • Oleh : admin

KORAN JAKARTA – Pemerintah diminta menyusun kebijakan yang komprehensif untuk menyelesaikan akar masalah struktural perekonomian terutama ketimpangan pendapatan dan kemiskinan. Pasalnya, selama ini pemerintah cenderung hanya mengandalkan cara mudah dengan menggelar program rutin yang terbukti tidak efektif mempersempit jurang kesejahteraan antarkelompok masyarakat dan mengurangi kemiskinan.

Hal itu dikemukakan oleh Peneliti Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM Yogyakarta, Sukamdi, ketika dihubungi, Rabu (16/12). Ia pun mengingatkan ada perubahan mendasar dari pola pembangunan ekonomi yang menyebabkan kontribusi pertumbuhan ekonomi terhadap penyerapan lapangan kerja makin sedikit dari tahun ke tahun.

“Di masa akhir Orde Baru, setiap 1 persen pertumbuhan ekonomi masih bisa menyerap 400 ribu tenaga kerja. Sementara saat ini tiap 1 persen pertumbuhan hanya menyerap 200 -300 ribu tenaga kerja,” ungkap Sukamdi.

Menurut dia, kini muncul kecenderungan kebijakan ekonomi kurang mempedulikan pengembangan dari identifikasi sektor dan pelaku ekonomi yang berkontribusi terhadap pertumbuhan. Hal itu terlihat dari keberpihakan pemerintah dan juga perbankan terhadap sektor ekonomi konglomerat ketimbang ekonomi rakyat serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), dan pertanian.

Negara, lanjut dia, lebih mudah memberikan izin pembangunan real estate dan mall daripada pembangunan sentra UMKM maupun pertanian. Begitu juga perbankan, sejak Orde Baru kucuran kredit ke sektor UMKM, pertanian, dan wilayah luar Jawa tidak mengalami pertumbuhan signifikan.

“Kalau terus seperti itu, penambahan 2 juta tenaga kerja dari usia produktif tiap tahun tidak akan bisa diserap oleh pertumbuhan ekonomi. Ini akan menambah kemiskinan dan memperlebar ketimpangan kesejahteraan,” kata Sukamdi.

Ia memaparkan dengan daya serap 200-300 ribu tenaga kerja untuk setiap 1 persen pertumbuhan, Indonesia sejatinya membutuhkan 7-8 persen pertumbuhan ekonomi tiap tahun. Apabila pemerintah hanya menjalankan program rutin yang bias kepada ekonomi kalangan menengah ke atas, dan melupakan sektor pertanian dan UMKM maka problem ketimpangan dan kemiskinan akan sangat sulit untuk diselesaikan.

Sebelumnya, sosiolog dari Universitas Airlangga Surabaya, Bagong Suyanto, juga menilai disparitas atau ketimpangan pen¬dapatan dan kesenjangan sosial di Indonesia yang menganga saat ini akibat kurangnya keberpihakan negara terhadap masyarakat bawah. Pemerintah seolah asyik dengan program-programnya tapi sejatinya tidak peduli dengan kondisi rakyat sesungguhnya.

“Kelihatannya adil dan kompetitif bagi semua pihak, namun nyatanya hanya ke kelompok elit saja yang bisa mengakses, sehingga hanya mereka yang diuntungkan,” ujar Bagong. Sementara Bank Dunia pun mengingatkan agar mekanisme dalam distribusi dana desa perlu diperbaiki karena sistem distribusi yang sedang berjalan tidak merata dan dapat memicu ketimpangan pendapatan antar-penduduk di daerah.

Pakar sosiologi dari Universitas Airlangga Surabaya, Tuti Budi Rahayu, menambahkan kesenjangan ekonomi dan ketimpangan sosial yang terus melebar akibat makin kuatnya perbedaan kesempatan antar kelompok masyarakat dalam memanfaatkan sumberdaya. “Proses kesenjangan bermula dari kesempatan memanfaatkan sumberdaya yang tidak merata, baik itu politik, pendidikan, kesehatan, maupun ekonomi,” tuka dia. [] YK/SB/WP

*Sumber: Koran Jakarta (17/12) | Foto Kemiskinan/Antara Foto

Tags: Disparitas kemiskinan ketimpangan pertumbuhan ekonomi sektor pertanian Sukamdi tenaga kerja UMKM

Related Posts

Risalah Kebijakan PSKK UGM

Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Purworejo

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Kemiskinan ekstrem di Kabupaten Purworejo dan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk mengatasinya. Data yang digunakan adalah hasil studi PSKK UGM pada tahun 2023 dengan metode kualitatif. 
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Rumah Tangga Miskin dan Perempuan di Tengah Krisis Pandemi COVID-19

Risalah Kebijakan Senin, 15 Desember 2025

Pandemi COVID-19 merupakan persoalan multisektor yang berdampak signifikan terhadap seluruh aspek kehidupan. Kondisi ini tidak hanya menghantam kegiatan ekonomi, tapi juga aktivitas sosial dan pendidikan. Dampaknya sangat terasa bagi kelompok miskin dan rentan, sektor tertentu, perempuan, dan mereka yang terisolir secara geografis.

Strategi Kelangsungan Usaha Rumah Tangga Mantan Penerima PKH di Era Pandemi COVID-19

Risalah Kebijakan Senin, 15 Desember 2025

Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM menerbitkan Risalah Kebijakan atau Policy Brief bertajuk "Strategi Kelangsungan Usaha Rumah Tangga Mantan Penerima PKH di Era Pandemi COVID-19".
Jurnal peneliti PSKK UGM

Problematika Pendidikan Masa Pandemi di Indonesia pada Daerah 3-T (Terluar, Tertinggal, dan Terdepan)

Karya Peneliti Senin, 17 November 2025

Penelitian ini mendeskripsikan permasalahan formal/utama pendidikan yang dihadapi siswa yang berada di daerah 3-T di masa pandemik dan mendiskusikan alternatif solusi untuk mengatasinya.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada