• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

[MEDIA ARCHIVES] Pekerja Migran Ponorogo Ternyata Memiliki Target

  • Media
  • 4 November 2015, 07.18
  • Oleh : admin

YOGYA (KRjogja.com) – Migrasi internasional yang oleh banyak media massa kerap dimaknai sebagai bentuk eksploitasi pekerja dengan berbagai cerita pilu, ternyata mempunyai makna yang berbeda di Ponorogo. Persepsi masyarakat Ponorogo tentang pekerja migran adalah positif. Tak heran, karena bekerja di luar negeri telah lama ada dan dilakukan antargenerasi.

“Masyarakat menyatakan, tidak ada satu pun dusun di Ponorogo yang tidak mempunyai pekerja migran. Menjadi buruh migran di luar negeri telah menjadi gaya hidup masyarakat,” kata Dr. Agus Joko Pitoyo, M.A., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada saat Seminar Diseminasi Hasil Penelitian “Migrating out of Poverty” di Auditorium Gedung Masri Singarimbun, Selasa (3/11/2015).

Joko menambahkan, migrasi internasional di Ponorogo bukanlah fenomena baru, tetapi perilaku hidup masyarakat yang telah berlangsung sejak 500 tahun yang lalu. Intensifnya migrasi internasional terbentuk melalui proses internalisasi pada individu semenjak dia kecil, terus berkembang hingga dewasa, bahkan masa tua, sebagai suatu siklus hidup (life cycle). Bagi masyarakat Ponorogo, bekerja ke luar negeri adalah pekerjaan yang diimpikan dengan berbagai variasi negara tujuan.

Dewasa ini, kebijakan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri seirama dengan momentum Masyarakat Ekonomi ASEAN atau MEA 2105. Adanya MEA 2015 menuntut setiap negara-negara ASEAN, tak terkecuali Indonesia, untuk membuka peluang pasar tenaga kerja yang terbuka dan luas. Pekerja migran dari negara ASEAN lainnya bisa bekerja di Indonesia, begitu pula sebaliknya. Namun demikian, jauh sebelum MEA 2015 dicanangkan, masyarakat Ponorogo sudah lebih dahulu menjelajah dunia.

Lebih lanjut, penelitian “Migrating out of Poverty” yang merupakan bentuk kerja sama PSKK UGM dengan Asia Research Institute, National University of Singapore mendapatkan beberapa temuan. Salah satunya adalah soal remitansi atau uang kiriman ke negara asal.

Dr. Silvia Mila Arlini dari Asia Research Institute, NUS dalam kesempatan yang sama menyampaikan, migran perempuan cenderung mengirimkan lebih banyak uang kepada rumah tangga mereka. Berdasarkan jenis pekerjaan, migran perempuan yang bekerja di sektor domestik cenderung mengirimkan uang lebih banyak dibandingkan dengan tiga pekerjaan lainnya yang didominasi oleh laki-laki, misalnya di sektor pertanian, konstruksi, dan produksi.

Sebagian besar remitansi digunakan untuk mencukupi keperluan sehari-hari (35 persen) dan juga untuk biaya pendidikan dan keperluan anak-anak (26 persen). Tingginya penggunaan uang kiriman untuk kepentingan sosial bukanlah hal yang mengejutkan karena itulah motivasi utama mereka bermigrasi untuk bekerja. Hanya ada sedikit rumah tangga yang menggunakan uang kiriman untuk investasi fisik seperti lahan pertanian, deposito bank, ternak, alat-alat pertanian maupun bisnis. [] Danar Widiyanto (*/R-3)

*Sumber: KR Online

Tags: Jawa Timur Masyarakat Ekonomi ASEAN migran perempuan migrasi internasional pasar tenaga kerja pekerja migran Ponorogo remitansi

Related Posts

Kelola Program Transmigrasi, Elit Lokal dan Penduduk Asli Harus Dilibatkan

Media Kamis, 3 Desember 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Pemerintah gencar melakukan program transmigrasi. Guna melancarkan program ini, 25 provinsi se-Indonesia digandeng untuk berkerja sama, khususnya dalam upaya untuk meningkatkan kesejahteraan transmigran dan wilayah tujuan transmigrasi.

PSKK UGM Menggelar Bedah Buku "ON THE POLITICS OF MIGRATION: Indonesia and Beyond"

Berita PSKKMedia Senin, 9 November 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Ada pengetahuan yang kaya tentang migrasi dalam buku berjudul "ON THE POLITICS OF MIGRATION: Indonesia and Beyond" karya Dr. Riwanto Tirtosudarmo, M.A., Peneliti Senior Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu […].

[Media Archives] Dana Desa Harus Bisa Bantu Ciptakan Lapangan Pekerjaan

Media Senin, 9 November 2015

YOGYAKARTA, (PRLM) – Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Agus Heruanto Hadna mengatakan, program dana desa yang digulirkan pemerintah seharusnya bisa membuka banyak lapangan pekerjaan apabila diarahkan untuk peningkatan pembangunan […].

[MEDIA ARCHIVES] Sebagian Besar Dana Remintansi TKI untuk Keperluan Sehari-hari

Media Kamis, 5 November 2015

NERACA, Jakarta – Dana remitansi yang dikirimkan oleh Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke Indonesia jumlahnya mencapai triliunan, namun sebagian besar dana tersebut hanya dikeluarkan untuk kebutuhan dasar atau kebutuhan sehari-hari.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada