• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

KETAHANAN PANGAN: Dibutuhkan Lahan Pangan Abadi

  • Media
  • 27 Maret 2014, 09.15
  • Oleh : admin

JAKARTA, KOMPAS — Konversi lahan pangan menjadi permukiman melanda sejumlah daerah, termasuk di kawasan hutan sagu di Papua. Sementara seiring pertambahan penduduk, kebutuhan pangan terus meningkat.

Alih fungsi lahan terjadi karena tak ada konsistensi pemerintah pusat dan daerah membangun ketahanan pangan. ”Konversi lahan sagu di Papua ketika pergantian kepala daerah,” kata Freddy Numberi, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan yang juga pemerhati sagu, pada diskusi ”Pengembangan Industri Sagu Berbasis Inovasi Teknologi untuk Membangun Ketahanan Pangan Nasional”, di Jakarta, Rabu (26/3).

Perhatian pemerintah dalam ketahanan pangan dimulai pada 1979 lewat Keppres Nomor 20 Tahun 1979 tentang Pengembangan Pangan Alternatif dalam Rangka Ketahanan Pangan. Keputusan itu diperkuat keluarnya Perpres No 22/2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal.

Ditambahkan Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi Listyani Wijayanti, UU No 18/2012 tentang Pangan pun telah mengamanatkan penyelenggaraan pangan berkelanjutan berdasarkan kedaulatan, kemandirian, dan ketahanan pangan.

Tingkat konsumsi beras Indonesia, menurut Listyani, mencapai 130 kilogram per kapita per tahun. Ini lebih tinggi daripada konsumsi beras dunia yang rata-rata 60 kg/kapita/tahun. Untuk mengatasi, ia berpendapat, perlu mengembangkan sumber pangan lokal, antara lain sagu.

Luas hutan sagu Indonesia yang 1,25 juta hektar, sekitar 1,2 juta ha terdapat di Papua. Luas lahan sagu di Papua yang telah dibudidaya baru 14.000 ha. Sekitar 120.000 ha tersebar di Sumatera, Sulawesi, Maluku, dan Kalimantan.

Menurut Freddy, pembangunan ketahanan pangan, di antaranya bisa melalui pembentukan Dewan Ketahanan Pangan Nasional yang bertanggung jawab kepada Presiden. Itu diikuti pembentukan lembaga yang sama di tingkat provinsi dan kabupaten.

Melalui lembaga itu dipetakan potensi sagu untuk kemudian ditetapkan lahan sagu abadi yang diperkuat peraturan daerah. ”Lahan sagu ini tidak dapat berubah fungsi karena ada dasar hukumnya. Penggunaannya hanya untuk budidaya,” ujarnya.

Hal yang sama dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki potensi sumber daya pangan pokok lain, seperti singkong, jagung. ”Dengan begitu terbentuk ketahanan pangan di tiap daerah berbasis sumber daya lokal. Cara ini juga mengurangi ketergantungan pada beras,” kata Freddy. (YUN)

*Sumber artikel: Harian Kompas, 27 Maret 2014 | Sumber foto: www.ppk-kp3k.kkp.go.id

Tags: Dewan Ketahanan Pangan Nasional Freddy Numberi hutan sagu industri Kalimantan ketahanan pangan konversi lahan Maluku pangan pangan lokal Papua

Related Posts

MIFEE: Ruang Keterlibatan Bagi Orang Marind Masih Sangat Minim

Media Jumat, 18 Desember 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Bermula saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan panen raya di Merauke dan di saat yang sama dicanangkanlah Merauke sebagai lumbung pangan nasional.

PENGENTASAN KEMISKINAN: Pemerintah Perlu Tahu Perilaku Konsumsi Rumah Tangga

Berita PSKKKegiatanMediaSeminar Jumat, 30 Oktober 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Pemerintah memiliki banyak program guna mengentaskan kemiskinan, namun belum cukup berhasil mendorong rumah tangga miskin untuk lebih sejahtera. Kurang efektifnya program bisa jadi juga karena kurangnya pengetahuan pemerintah tentang perilaku konsumsi […].

[SIARAN PERS] KEBIJAKAN PANGAN INDONESIA: Tak Melulu Soal Produksi, Peningkatan Akses Pangan Juga Perlu Perhatian

KegiatanMediaSeminarSiaran Pers Kamis, 11 Juni 2015

Yogyakarta, PSKK UGM — Selama beberapa tahun terakhir, angka kelaparan dunia dilaporkan menurun. Beberapa negara berkembang mampu memperbaiki kondisi pangan di dalam negeri. Sebagian besar negara di kawasan Asia Tenggara pun mampu membuat kemajuan pesat.

[SIARAN PERS] KEBIJAKAN PANGAN INDONESIA: Tak Melulu Soal Produksi, Peningkatan Akses Pangan Juga Perlu Perhatian

Berita PSKKMediaSiaran Pers Kamis, 11 Juni 2015

Yogyakarta, PSKK UGM — Selama beberapa tahun terakhir, angka kelaparan dunia dilaporkan menurun. Beberapa negara berkembang mampu memperbaiki kondisi pangan di dalam negeri. Sebagian besar negara di kawasan Asia Tenggara pun mampu membuat kemajuan pesat.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada