• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

KEPENDUDUKAN: Kebahagiaan Keluarga Jadi Kunci Kemajuan Bangsa

  • Media
  • 30 Juni 2014, 08.30
  • Oleh : admin

BOGOR, KOMPAS – Kemajuan Indonesia amat bergantung pada kesejahteraan dan kebahagiaan 67 juta keluarga. Namun, kini kondisi ketahanan keluarga melemah karena orangtua sibuk mencari nafkah sehingga kerap melupakan pengasuhan anak.

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal, saat Deklarasi Keluarga Indonesia, di Bogor, pekan lalu, keluarga ibarat sel, sedangkan negara ibarat tubuh. Jika sel atau keluarga rusak karena tak sejahtera dan tidak bahagia, tubuh atau negara akan sakit.

Fasli mengatakan, 67 juta keluarga atau 250 juta jiwa warga harus dirawat agar sehat, sejahtera, dan bahagia. Kemajuan teknologi, informasi, dan pengaruh kebudayaan mengubah cara berkeluarga. Dulu keluarga dan lingkungan berperan penting mendukung dan menutupi kekurangan keluarga inti yang terdiri dari orangtua serta dua anak. Perkembangan anak dan remaja terpantau dan terantisipasi.

Namun, kini keluarga inti bertahan sendiri. Orangtua terpaksa bekerja keras karena tuntutan ekonomi sehingga kerap melupakan pengasuhan anak-anak. Akibatnya, perkembangan anak terganggu, berperilaku nakal, atau bertindak melawan aturan.

Karena itu, orangtua harus menyadari pentingnya komunikasi dengan anak. Sesibuk apa pun perlu disediakan waktu bermutu untuk mengasuh. Keluarga perlu saling menyayangi dan ramah di lingkungan internal dan tetangga. Kini di Indonesia ada 28 juta anak balita yang butuh panutan untuk pertumbuhan.

Bahagia

Survei Badan Pusat Statistik pada awal 2014 mencakup 2.900 sampel menyebut, keluarga dengan indeks kebahagiaan tertinggi jika punya dua anak. Ini lebih baik daripada lajang, menikah tetapi tak punya anak, beranak satu atau lebih dari dua. Orangtua dengan dua anak adalah komposisi ideal, seimbang dan tak terlalu membebani ekonomi.

BKKBN pernah melansir data, jika pertumbuhan penduduk tak dikendalikan, Indonesia akan menghadapi ledakan pada 2035 dengan 450 juta jiwa. Padahal, proyeksi awal, pada 2035, Indonesia berpenduduk 305 juta jiwa. Ledakan bisa terjadi jika keluarga punya banyak anak. Keluarga akan menanggung beban berat perekonomian dan pengawasan.

Dekan Fakultas Ekologi Manusia IPB Arif Satria mengatakan, kemajuan negara diukur dari indeks kebahagiaan. Negara bagus jika warga mendapat pekerjaan, lingkungan dan keluarga bagus. Antarwarga tumbuh sikap percaya tinggi sehingga solidaritas dan karakter kuat.

Guru besar Ilmu Keluarga IPB Euis Sunarti menambahkan, pemerintah perlu mewujudkan program penyediaan pekerjaan bagi suami ataupun istri dengan penghasilan cukup dan suasana kondusif. (BRO)

*Sumber: Harian KOMPAS, 30 Juni 2014 | Foto: Istimewa

Tags: anak BKKBN BPS Fasli Jalal indeks kebahagiaan jumlah penduduk keluarga Kependudukan peran orangtua proyeksi penduduk remaja

Related Posts

Polemik Miras DI Yogyakarta: Perbedaan Persepsi dan Regulasi Usang di Era Digital

Berita PSKKInformasiMain SlideMediaSiaran Pers Selasa, 29 Juli 2025

PSKK UGM – Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM mengadakan audiensi hasil riset terkait polemik miras – minuman keras – di Yogyakarta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DI Yogyakarta pada Senin, 28 Juli […].

Penerapan Model Bayesian pada Proyeksi Penduduk dan Implikasinya Terhadap Perubahan Struktur Umur Penduduk Indonesia 2015-2045

Buku Senin, 26 Mei 2025

Buku ini diantaranya membahas pergeseran dari perspektif deterministic menuju ke perspektif probabilistic dan model proyeksi penduduk bayesian.

Pakar PSKK UGM dan Aktivis Gender Ungkap Peran Penting Gerakan Anak Muda di Ruang Digital Terkait Kasus Kekerasan Seksual 

Berita PSKKInformasiKegiatanKonferensi / SeminarMain SlideSiaran Pers Rabu, 20 Desember 2023

Yogyakarta – Pada dua dekade terakhir isu-isu gender seperti kekerasan berbasis gender, politik seksual, kesehatan mental, seksual, dan reproduksi menemukan fokus baru di dunia digital sehingga terjadi perubahan bentuk, modus, dan aktornya.

Menuju SDGs 2030, Indonesia Dinilai Memiliki Banyak Tantangan untuk Peningkatan Derajat Kesehatan

Berita PSKKInformasiMain SlidePojok SDGs Jumat, 30 Juli 2021

Indonesia ditargetkan bisa menekan MMR hingga 70 persen pada 2024, namun hal ini akan sulit tercapai karena penyebab kematian ibu pascapersalinan masih banyak diakibatkan oleh gangguan hipertensi dan pendarahan.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada