• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

Angka Unmet Need Naik, Kinerja PLKB Dinilai Turun

  • Media
  • 30 Juni 2014, 14.27
  • Oleh : admin

Yogyakarta, PSKK UGM – Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi persoalan kependudukan yang lebih kompleks lagi. Bagaimana tidak? Selain persiapan untuk menghadapi bonus demografi, jumlah lansia yang semakin banyak, DIY kembali dihadapkan pada persoalan klasik kependudukan, yakni meningkatnya jumlah kelahiran.

Data Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 menunjukkan, angka kelahiran total atau TFR (total fertility rate) nasional adalah 2,7. Sementara untuk Provinsi DIY, angka TFR naik sebanyak 0,3 yakni dari angka 1,8 (SDKI 2007) menjadi 2,1. Meski angka ini masih paling rendah di tingkat nasional, kenaikan ini tentu saja tidak bisa dibiarkan.

Hal itu disampaikan oleh Pande Made Kutanegara, M.Si., Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada saat Rapat Kerja Daerah Penyiapan Bahan Perumusan Kebijakan Bidang KB dan Keluarga Sejahtera, Biro Kesejahteraan Rakyat, Pemerintah Provinsi DIY di Hotel Inna Garuda, Rabu (25/6) lalu.

Salah satu yang menyebabkan naiknya angka TFR adalah meningkatnya angka unmet need—proporsi perempuan usia subur (15 sampai 49 tahun), menikah, dan tidak menginginkan tambahan anak atau menunda kehamilan hingga jarak dua tahun namun tidak menggunakan alat kontrasepsi, dan atau metode KB apapun. Pada umumnya, pasangan usia subur atau PUS tidak mau menggunakan alat kontrasepsi karena efek sampingnya terhadap kesehatan, larangan dari pasangan atau suami, biaya yang harus dikeluarkan, tidak ingin repot, hingga pengalaman subyektif bahwa selama ini tanpa alat kontrasepsi pun tidak terjadi kehamilan.

Made menambahkan, unmet need  yang juga menjadi kendala sekaligus tantangan adalah PUS yang memiliki alasan Tidak Ingin Anak Lagi (TIAL) namun tidak mau ikut KB. “Sebagai contoh, dari 80 PUS di salah satu kecamatan di Kulonprogro, setelah mendapatkan penyuluhan tentang penggunaan KB berkali-kali, ternyata kurang menunjukkan hasil yang baik. Hanya 20 orang saja yang akhirnya mau menggunakan alat kontrasepsi.”

Melalui konseling kesehatan reproduksi, perempuan bisa memahami dengan benar bahwa dirinya tetap bisa beresiko hamil meski telah berumur lebih dari 35 tahun atau sudah jarang berhubungan seksual. Jika memiliki pengetahuan kesehatan reproduksi yang cukup—akseptor KB tahu benar hal-hal apa saja yang perlu dilakukan, dan diwaspadai—maka tidak perlu ada kekhawatiran sehingga mengorbankan dirinya tidak terlindungi metode KB.

Kinerja PLKB turun

Penyuluh Lapangan KB merupakan motor penggerak dari program KB. Keberhasilan program KB tidak terlepas dari peran penting yang diemban PLKB dalam memberikan pemahaman, pengetahuan, dan konseling kepada masyarakat tentang pentingnya mengikuti program KB. Meski demikian, jumlah PLKB dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Beberapa kabupaten bahkan merasa kekurangan tenaga petugas PLKB.

“Selain soal jumlah, jika membandingkan dengan masa Orba, maka cukup jelas terlihat kinerja PLKB dan kader KB yang merosot. Banyak PLKB dan kader KB yang tidak lagi melakukan pendataan PUS dengan metode door to door sehingga data yang diperoleh pun menjadi kurang valid,” ujar Made.

Ada beberapa hal mengapa PLKB dewasa ini kurang cakap. Pertama, ketersediaan anggaran untuk program KB terbatas dibanding dengan anggaran program lainnya. Bahkan alokasi untuk honor petugas PLKB lebih sedikit daripada petugas dengan program atau kegiatan yang lain. Kedua, minimnya pelatihan yang mengarah pada teknik Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) bagi petugas PLKB, dan kader KB sehingga menyebabkan kurangnya pemahaman dan pengetahuan tentang alat kontrasepsi.

“Kondisi ini perlu menjadi perhatian pemerintah terutama yang bergelut di bidang kependudukan. Secara umum, perlu dilakukan pencermatan tentang konsep, definisi, dan indikator unmet need, lalu keseriusan dalam pengumpulan data unmet need di lapangan, hingga perlunya langkah-langkah strategis dan terarah dalam pencapaian target TFR,” jelas Made. [] Media Center PSKK UGM | Foto: Tribunnews

Tags: alat kontrasepsi Biro Kesra Pemprov DIY Kader KB Kebijakan KB Pande Made Kutanegara PLKB PUS SDKI 2012 TFR unmet need Yogyakarta

Related Posts

Polemik Miras DI Yogyakarta: Perbedaan Persepsi dan Regulasi Usang di Era Digital

Berita PSKKInformasiMain SlideMediaSiaran Pers Selasa, 29 Juli 2025

PSKK UGM – Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM mengadakan audiensi hasil riset terkait polemik miras – minuman keras – di Yogyakarta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DI Yogyakarta pada Senin, 28 Juli […].

Pakar PSKK UGM dan Aktivis Gender Ungkap Peran Penting Gerakan Anak Muda di Ruang Digital Terkait Kasus Kekerasan Seksual 

Berita PSKKInformasiKegiatanKonferensi / SeminarMain SlideSiaran Pers Rabu, 20 Desember 2023

Yogyakarta – Pada dua dekade terakhir isu-isu gender seperti kekerasan berbasis gender, politik seksual, kesehatan mental, seksual, dan reproduksi menemukan fokus baru di dunia digital sehingga terjadi perubahan bentuk, modus, dan aktornya.

Kelompok Rentan dan COVID-19 di Indonesia: Sektor Informal, Disabilitas, dan Perempuan

Berita PSKKInformasiMain SlideSiaran Pers Rabu, 5 Agustus 2020

Hasil survei awal PSKK UGM terkait dampak COVID-19 terhadap pekerja informal menunjukkan, 31,3 persen responden menyatakan bahwa mereka mulai merasakan dampak pandemi sejak awal April. Hal ini menyusul penerapan pembatasan sosial yang dilakukan pemerintah.

Desain Ulang Kependudukan | KOMPAS

Arsip MediaBerita PSKKMain SlideMedia Senin, 31 Juli 2017

Wacana Pelonggaran Kelahiran Berisiko Besar Jakarta, KOMPAS – Pertumbuhan penduduk Indonesia belum mencapai kondisi ideal. Karena itu, wacana mengkaji ulang program dua anak perlu dicermati hati-hati.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada