Menurunkan TFR, Faktor Penting Mencapai Bonus Demografi

21 Desember 2013 | admin
Berita PSKK, Kegiatan, Media, Seminar

Surakarta, PSKK UGM – Faktor penting agar Indonesia bisa mencapai bonus demografi adalah dengan menurunkan angka fertilitas atau TFR (total fertility rate). Hal tersebut disampaikan oleh Dr. Sukamdi, Pakar Demografi Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada dalam acara “Sosialisasi Bonus Demografi bagi Mitra Kerja” yang diselenggarakan oleh Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Jawa Tengah, Rabu (18/12) lalu.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Ballroom Hotel Sunan Surakarta tersebut, Sukamdi kembali mengatakan, saat ini angka TFR Indonesia berada pada 2,6. Jika angka tersebut tidak bisa turun menjadi 2,1 maka Indonesia bisa kehilangan momentum untuk memetik bonus demografi.

“Bonus demografi itu tidak bersifat otomotis melainkan harus diusahakan. Pemanfaatan window of opportunity dari bonus demografi bisa dilakukan apabila ada penurunan angka kelahiran sampai tahun 2030,” ujarnya.

Sebelumnnya, hasil analisis demografer terhadap indikator dasar kependudukan (tingkat kelahiran dan kematian) menunjukkan, Indonesia tengah menikmati bonus demografi. Kondisi ini adalah dampak jangka panjang dari pelaksanaan program KB yang sudah dimulai secara nasional sejak era 70-an. Tingginya tingkat kelahiran pada dekade 60-an dan 70-an membuat jumlah kelompok usia muda, yakni 15 tahun ke atas meningkat pada era 90-an. Selain itu, keberhasilan program KB dalam menurunkan jumlah penduduk dengan usia di bawah 15 tahun pun terlihat pada dekade 80-an. Dinamika perubahan struktur umur ini berdampak pada menurunnya proporsi penduduk non produktif serta meningkatnya proporsi penduduk usia produktif.

Indonesia disebut akan menikmati kondisi tersebut pada kurun waktu 2020 sampai 2030. Jumlah penduduk akan berkisar 268 juta jiwa (2020) dan 293 juta jiwa (2030) dimana sebagian besar merupakan penduduk dengan usia produktif. Kondisi ini tentu sangat baik dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Namun, apa jadinya jika penurunan angka kelahiran atau TFR tidak terjadi?

“Jumlah penduduk menurut umur akan jauh lebih besar dari proyeksi medium. Angka penganguran serta jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat. Bisa jadi Indonesia tidak akan mencapai bonus demografi. Window of opportunity pun terbuang dan berubah menjadi the door to disaster. Indonesia akan kembali ke Population Malthusian Trap, kondisi dimana tak ada perubahan kualitas hidup atau cenderung terjadi penurunan kualitas hidup,” ujar Sukamdi.

Hal serupa juga disampaikan oleh Ir. Retno Setyawati Gito, MS dari Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) dalam kesempatan yang sama. Bukannya menjadi berkah, bonus demografi justru bisa menjadi bencana. “Jika kita sendiri tidak siap mengelola limpahan sumber daya manusia angakatan kerja ini, maka logika urbanisasi serta berbagai persoalan kependudukan akan meningkat. Sebut saja, tingginya angka kriminalitas, serta praktek prostitusi. Migrasi ke kota secara besar-besaran hanya akan memicu kesenjangan sosial yang berpotensi konflik.”

Oleh karena itu, pengembangan potensi sumber daya alam yang melimpah, kebijakan ekonomi yang prudent, disertai proporsi penduduk usia produktif khususnya usia muda menjadi kunci keberhasilan dalam mendukung pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan. Retno mengatakan, maka penting kiranya untuk menciptakan SDM yang berkualitas sehingga mampu terserap di pasar kerja, menggalakkan tabungan pada level rumah tangga, serta meningkatkan tingkat serap pasar kerja terhadap tenaga kerja perempuan. Ada 49 persen penduduk Indonesia adalah perempuan sehingga perlu terserap di pasar kerja. Peluang perempuan untuk bekerja akan lebih tinggi jika dia tidak memiliki anak yang banyak. [] Media Center PSKK UGM (diolah dari berbagai sumber/ Photo: BKKBN Jateng).