• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media
  • Arsip Media

Kendalikan Laju Inflasi untuk Tekan Angka Kemiskinan | Koran Jakarta

  • Arsip Media, Main Slide, Media
  • 5 Januari 2017, 09.57
  • Oleh : admin

Impor pangan tanpa kendali berpotensi menambah angka kemiskinan di perdesaan.
Ketimpangan pengeluaran penduduk miskin di Jakarta juga semakin tinggi.

JAKARTA, Koran Jakarta – Pemerintah diharapkan mampu menekan laju inflasi, terutama menjaga harga pangan, guna terus mengurangi angka kemiskinan di Tanah Air. Pasalnya, tahun ini bakal muncul ancaman inflasi dari kenaikan harga yang diatur pemerintah, seperti bahan bakar minyak (BBM) dan tarif listrik.

Dalam upaya mengatasi kemiskinan, pemerintah juga diminta untuk tidak melupakan fungsi pokok negara sebagai otoritas yang memiliki kewajiban mendistribusikan kemakmuran untuk seluruh rakyat Indonesia.

Peneliti Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) UGM, Sukamdi, mengemukakan hal itu saat diminta tanggapannya tentang penurunan angka kemiskinan nasional, Rabu (4/1). Menurut Sukamdi, komoditas pangan memang menjadi penyumbang terbesar garis kemiskinan. Namun, menjaga stabilitas harga pangan domestik dengan kebijakan impor tanpa kendali dengan alasan lebih murah pada akhirnya juga kontraproduktif.

“Impor pangan yang masif selama ini terbukti mematikan petani nasional. Dan, secara signifikan mengurangi jumlah petani yang juga menjadi produsen pangan,” ungkap dia. Sukamdi mengatakan sesuai amanat konstitusi, pemerintah memiliki kewajiban yang lebih besar lagi, yakni mendistribusikan kekayaan dan memastikan sumber daya ekonomi yang menguasai hajat hidup orang banyak digunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

“Kondisi saat ini, sumber daya alam banyak dikuasai konglomerasi yang menyebabkan kebakaran hutan, kekeringan, dan banjir. Sementara rakyat tani di perdesaan hanya memiliki lahan yang sangat minim dan rentan terhadap garis kemiskinan bahkan kelaparan,” ungkap dia.

Sebelumnya dikabarkan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah penduduk miskin per September 2016 berkurang menjadi 27,76 juta orang (10,70 persen), dibandingkan dengan Maret 2016 sebanyak 28,01 juta orang (10,86 persen). Kepala BPS, Suhariyanto, mengemukakan meski angka kemiskinan cenderung terus menurun, kesenjangan yang tinggi antara jumlah penduduk miskin di perdesaan dan perkotaan relatif tidak berubah.
Walaupun sepanjang Maret–September 2016 persentase kemiskinan menurun, jumlah penduduk miskin di perkotaan naik 0,15 juta orang menjadi 10,49 juta orang pada September 2016, sementara di perdesaan turun 0,39 juta orang menjadi 17,28 juta orang pada September 2016.

“Ini tantangan bagi pemerintah. Persoalan besar yang kita hadapi dan tidak berubah. Masih ada disparitas kemiskinan dan penduduk miskin masih lebih banyak di perdesaan,” kata Suhariyanto.

Kondisi Jakarta

Sementara itu, jumlah penduduk miskin di DKI Jakarta pada September 2016 mencapai 385,84 ribu orang, atau meningkat 17,17 ribu orang dibandingkan bulan yang sama 2015. Pada periode sama, Indeks Kedalaman Kemiskinan dan Indeks Keparahan Kemiskinan juga meningkat.

“Peningkatan nilai kedua indeks tersebut mengindikasikan bahwa rata-rata pengeluaran penduduk miskin cenderung menurun dan menjauhi garis kemiskinan, serta ketimpangan pengeluaran penduduk miskin juga semakin tinggi,” ujar Kepala Bidang Statistik Sosial dari BPS DKI, Sri Santo Budi Muliatinah, di Jakarta, Rabu.

Secara nasional, Sukamdi menyebutkan data tentang konsentrasi kekayaan menunjukkan kenaikan pendapatan 20 persen golongan atas yang fantastis dalam satu dekade terakhir, dibarengi dengan stagnasi bahkan penurunan pendapatan di 40 persen golongan terbawah.

“Artinya ada yang salah secara makro. Peran negara masih sangat minim dalam meningkatkan penghasilan golongan terbawah ataupun menciptakan lapangan kerja bagi pengangguran,” jelas dia. YK/ers/nis/WP []

*Sumber: Koran Jakarta |Foto: Buruh Tani di wilayah Sigi/Harian Jurnal Asia

Related Posts

Ringkasan Penelitian PSKK UGM

Strategi Pengembangan UMK dan Koperasi untuk Perluasan Kesempatan Kerja di Kab. Kampar

Ringkasan Penelitian Rabu, 17 Desember 2025

Studi PSKK UGM menemukan masih adanya kendala dalam upaya pemberdayaan UMK dan koperasi di Kabupaten Kampar, mencakup terkait dengan pendanaan program dan permodalan, data base UMK dan koperasi, kualitas dan kontinuitas produk, efektivitas program pemberdayaan UMK dan koperasi, serta kemitraan antarpemangku kepentingan di sektor UMK dan koperasi. 
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Strategi Pengembangan Potensi Pariwisata di Kabupaten Kampar

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Riset ini bertujuan memetakan isu-isu strategis kepariwisataan di Kab. Kampar serta memberikan rekomendasi kebijakan pengembangan potensi pariwisata yang lebih optimal.
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Mitigasi Lingkungan dan Masyarakat untuk Mewujudkan Investasi Hijau di IKN

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Hasil kajian PSKK UGM (2024) membuktikan bahwa sangat tidak mudah untuk menerapkan strategi investasi hijau (green investment)dalam proses pembangunan IKN.
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Purworejo

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Kemiskinan ekstrem di Kabupaten Purworejo dan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk mengatasinya. Data yang digunakan adalah hasil studi PSKK UGM pada tahun 2023 dengan metode kualitatif. 
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada