• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media

PEMERINTAHAN BARU: Dikaji, Empat-Lima Kementerian Digabung

  • Media
  • 1 September 2014, 09.15
  • Oleh : admin

SOLO, KOMPAS — Perampingan kabinet dalam pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla tak akan dilakukan secara drastis. Pemerintahan baru akan menggabungkan beberapa kementerian dan membentuk kementerian baru.

Hal itu diungkapkan Sofyan Effendi selaku anggota Tim Pengkajian Arsitektur Kabinet Jokowi-JK di Universitas Sebelas Maret (UNS), Solo, Jawa Tengah, Sabtu (30/8).

”Ini (perampingan) seminimal mungkin. Kira-kira ada 4-5 kementerian digabung, bukan dihilangkan,” ujar Sofyan di sela Seminar Nasional dan Rapat Kerja Nasional/Pleno Himpunan Indonesia untuk Pengembangan Ilmu-Ilmu Sosial bertema ”Reformasi Birokrasi dan Keadilan Sosial”.

Sofyan mengatakan, berdasarkan analisis yang dilakukan tim, jika tujuan perampingan kabinet penghematan anggaran, perampingan dari 34 kementerian menjadi 21 kementerian tidak signifikan menghemat anggaran.

”Hanya Rp 3 triliun. Kalau tujuannya saving (penghematan) tidak ada artinya sama sekali. Namun, political risk-nya luar biasa besar. Kami usulkan supaya perampingan sesuai janji (kampanye), tetapi seminimal mungkin,” ujar mantan Rektor Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Risiko politik yang muncul apabila perampingan dilakukan secara drastis adalah munculnya protes dari partai politik koalisi. Sebab, dalam koalisi selalu ada kompensasi dalam mendudukkan kader terbaiknya di dalam kabinet.

Penggabungan

Kementerian yang direncanakan digabung antara lain Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Sementara itu, Kementerian Pertanian digabung dengan bidang perikanan, perkebunan, dan peternakan menjadi kementerian yang mengurusi kedaulatan pangan.

Selain itu, juga diusulkan kementerian pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan inovasi. Ini merupakan pemecahan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang digabung dengan Kementerian Riset dan Teknologi.

Menurut Sofyan, dibentuknya kementerian pendidikan tinggi, ilmu pengetahuan, dan inovasi dilatarbelakangi pemikiran, perlu adanya integrasi yang lebih baik antara fungsi pendidikan tinggi dengan riset dan teknologi. Penggabungan ini diharapkan bisa menjembatani bidang pendidikan tinggi dengan riset dan teknologi.

Kementerian lain yang diusulkan adalah Kementerian Keamanan Tanah Air dengan konsep seperti Homeland Security di Amerika Serikat. Kementerian ini mengurusi bidang keamanan dalam negeri yang direncanakan menggabungkan Badan Nasional Penanggulangan Teroris, Badan Narkotika Nasional, dan dimungkinkan juga Polri.

Pakar ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNS, Lukman Hakim, mengatakan, melihat gaya blusukan Jokowi ada kemungkinan fungsi kantor kepresidenan akan diperkuat dengan menggabungkan urusan perencanaan dan penganggaran ke dalamnya. Hal itu untuk mengatasi kelambanan gerak birokrasi.

”Gaya blusukan memerlukan satu tindakan lebih cepat. Kalau melihat birokrasi ada time lag sejak perencanaan hingga eksekusi,” katanya. (RWN)

*Sumber: Harian KOMPAS, 1 Sepember 2014

Tags: Joko Widodo Jusuf Kalla keadilan sosial pemerintahan perampingan kabinet reformasi birokrasi Sofyan Effendi

Related Posts

Revolusi Mental Ber-KB | Oleh: Razali Ritonga

Media Rabu, 1 Juli 2015

Metrotvnews.com — PRESIDEN Jokowi tentang Revolusi Mental di harian Kompas (10/5/2014) menyebutkan bahwa hasil pembangunan yang belum optimal yang diselenggarakan pemerintah terutama diakibatkan mental bangsa yang belum berubah sejak era Orde Baru.

Meningkatkan Kapasitas Pemerintahan Desa, PSKK UGM Akan Lakukan Pendampingan di Bojonegoro

Media Senin, 19 Januari 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Tata pemerintahan sudah cukup lama menjadi wacana publik. Kendati demikian, ekspektasi atau harapan masyarakat terhadap kinerja tata pemerintahan yang baik masihlah jauh dari realitasnya.

Penguatan Tata Kelola Pemerintah Daerah, Pemkab Kepulauan Talaud dan PSKK UGM Rintis Kerjasama

KegiatanMediaWorkshop Rabu, 12 November 2014

Yogyakarta, PSKK UGM – Kini, penguatan tata kelola pemerintah daerah merupakan hal yang tak terelakkan bagi pemerintah daerah baik di level provinsi, kabupaten, maupun kota. Sebagai komitmen untuk mendorong hal tersebut, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Talaud, […].

Menteri Pendidikan Baru dan Janji Jokowi

Media Kamis, 30 Oktober 2014

KOMPAS.com – Dua rektor perguruan tinggi dipercaya mengelola pendidikan dasar menengah dan tinggi di Tanah Air. Kini saatnya mereka mewujudkan janji Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla di bidang pembangunan manusia ketika berkampanye dulu.
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada