• Tentang UGM
  • Portal Akademik
  • Portal IT
  • Perpustakaan
  • Penelitian
  • Surel
Universitas Gadjah Mada Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan
Universitas Gadjah Mada
  • Profil
    • Tentang PSKK
    • Peneliti
  • Penelitian
    • Penelitian
    • Database
  • Publikasi
    • Jurnal Populasi
    • Publikasi
  • Kegiatan
  • Media
  • Home
  • Media
  • Arsip Media

Pacu Pembangunan Desa untuk Mengerem Urbanisasi | Koran Jakarta

  • Arsip Media, Berita PSKK, Main Slide, Media
  • 22 Desember 2017, 10.42
  • Oleh : admin

Perluas lapangan kerja di desa untuk mengurangi dorongan urbanisasi.
Urbanisasi identik dengan usaha mencari kesempatan untuk lebih produktif.

JAKARTA, Koran Jakarta – Pemerintah mesti memacu pembangunan perekonomian di perdesaan untuk menekan tingkat kemiskinan di desa guna mengatasi ketimpangan kesejahteraan penduduk desa dan kota yang selama ini menjadi pemicu urbanisasi.

Sebab, apabila laju perpindahan penduduk dari desa ke kota itu tidak dikelola dengan baik, berpotensi menimbulkan ketimpangan dan permasalahan di perkotaan meskipun di sisi lain juga berpeluang mendorong perekonomian.

Guru Besar bidang Sosiologi Ekonomi Unair Surabaya, Bagong Suyanto, mengemukakan pemerintah perlu mengatasi kesenjangan ekonomi dan sosial di desa dan kota melalui pembangunan perdesaan yang tepat sasaran untuk mengurangi dorongan penduduk desa melakukan urbanisasi.

“Tidak bisa dengan pendekatan pintu tertutup di kota, harus ditangani di hulunya, yakni membangun desa dan kota kecil agar tidak mendorong mereka urbanisasi,” kata dia, ketika dihubungi, Selasa (19/12).

Untuk itu, lanjut Bagong, kebijakan pemerintah harus lebih berpihak ke desa sehingga perlu dikembangkan kebijakan pembangunan wilayah inti berganda dan mendorong efektivitas pemanfaatan dana desa.

Menurut dia, pembangunan perdesaan sangat erat kaitannya dengan pembangunan sektor pertanian yang merupakan penyumbang tenaga kerja terbesar. Namun, kini kontribusi sektor itu terhadap perekonomian terus menurun.

“Ini sekaligus mengerem impor pangan agar pertanian dalam negeri punya kesempatan. Pendek kata, masyarakat desa harus dibuat lebih sejahtera,” tukas Bagong. Dia mengungkapkan penduduk desa cenderung memiliki kesejahteraan lebih rendah dibandingkan penduduk kota.

Persentase kemiskinan di perdesaan pada September 2016 tercatat mencapai 13,96 persen atau hampir dua kali lipat persentase penduduk miskin di kota sebesar 7,73 persen. Hal senada dikemukakan Kepala Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Agus Heruanto Hadna.

Menurut dia, hingga 2025, Indonesia masih akan menghadapi persoalan kependudukan seperti kualitas pendidikan dan kesehatan, kemiskinan dan ketimpangan, penyebaran penduduk, serta pengangguran.

Problemnya, menurut Agus, adalah pembangunan selalu bias kota dan tidak memperhatikan aspek masalah turunannya. Apabila urbanisasi terus dibiarkan, Indonesia akan menghadapi situasi sulit dengan demografi. “Kita mesti mendorong dana desa untuk penciptaan kerja di desa sehingga urbanisasi dicegah, persoalan kependudukan dikelola dengan visi jauh ke depan,” ujar dia.

Perencanaan Matang

Sementara itu, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, mengatakan urbanisasi bisa memberikan banyak dampak positif bagi perekonomian. Namun, tanpa perencanaan yang matang, perpindahan penduduk dari desa ke kota itu bisa menimbulkan ketimpangan.

Menkeu memaparkan urbanisasi identik dengan usaha masyarakat mencari kesempatan untuk lebih produktif. Status ekonomi masyarakat yang berpindah biasanya berubah dari kelas bawah menjadi menengah.

Itu sebabnya, urbanisasi sering dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, dia mengingatkan urbanisasi harus dirancang dengan baik agar inklusif. Artinya, kesempatan untuk lebih produktif bisa dirasakan semua orang di kota.

“Kalau tidak, nantinya eksklusif atau hanya untuk orang kaya,” kata Sri Mulyani, Selasa. Selain inklusif, lanjut dia, urbanisasi juga harus efisien dan berkelanjutan. Pemerintah harus mengoptimalkan sumber daya yang produktif yaitu manusia, tanah, dan modal.

Sri Mulyani merujuk kepada Tiongkok yang berhasil melakukan urbanisasi dengan ketiga kategori tersebut sehingga berdampak pada peningkatan perekonomian. Berdasarkan analisa Bank Dunia, setiap satu persen kenaikan populasi kota, produk domestik bruto (PDB) per kapita Tiongkok tumbuh 10 persen.

Di India, pertumbuhannya bisa mencapai 13 persen dan di Thailand tumbuh 7 persen. Sementara itu, PDB per kapita di Indonesia hanya tumbuh empat persen untuk setiap kenaikan satu persen populasi di kota. YK/SB/Ant/WP []

*Sumber: Koran Jakarta | Ilustrasi urbanisasi/pikiran-rakyat.com

Related Posts

Ringkasan Penelitian PSKK UGM

Strategi Pengembangan UMK dan Koperasi untuk Perluasan Kesempatan Kerja di Kab. Kampar

Ringkasan Penelitian Rabu, 17 Desember 2025

Studi PSKK UGM menemukan masih adanya kendala dalam upaya pemberdayaan UMK dan koperasi di Kabupaten Kampar, mencakup terkait dengan pendanaan program dan permodalan, data base UMK dan koperasi, kualitas dan kontinuitas produk, efektivitas program pemberdayaan UMK dan koperasi, serta kemitraan antarpemangku kepentingan di sektor UMK dan koperasi. 
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Strategi Pengembangan Potensi Pariwisata di Kabupaten Kampar

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Riset ini bertujuan memetakan isu-isu strategis kepariwisataan di Kab. Kampar serta memberikan rekomendasi kebijakan pengembangan potensi pariwisata yang lebih optimal.
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Mitigasi Lingkungan dan Masyarakat untuk Mewujudkan Investasi Hijau di IKN

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Hasil kajian PSKK UGM (2024) membuktikan bahwa sangat tidak mudah untuk menerapkan strategi investasi hijau (green investment)dalam proses pembangunan IKN.
Risalah Kebijakan PSKK UGM

Program Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem di Purworejo

Risalah Kebijakan Rabu, 17 Desember 2025

Kemiskinan ekstrem di Kabupaten Purworejo dan upaya yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Purworejo untuk mengatasinya. Data yang digunakan adalah hasil studi PSKK UGM pada tahun 2023 dengan metode kualitatif. 
Universitas Gadjah Mada

PUSAT STUDI KEPENDUDUKAN DAN KEBIJAKAN

UNIVERSITAS GADJAH MADA

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

 secretary_cpps@ugm.ac.id
 +62 (274) 547867
 +62 (274) 556563

Survey Layanan Digital Aplikasi JMO BPJSTK PSKK UGM

 

 

Asosiasi dan Kemitraan

Asosiasi

Mitra

  • Perguruan Tinggi
  • Instansi Pemerintah Pusat dan Daerah
  • Perusahaan Swasta
  • Lembaga Sosial Masyarakat (LSM)
  • Lembaga Donor dan UN Organizations

© 2017 Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gajah Mada