• About UGM
  • Portal Academic
  • IT Portal
  • Library
  • LPPM
  • Email
Universitas Gadjah Mada Center for Population and Policy Studies
Universitas Gadjah Mada
  • About CPPS
    • About CPPS UGM
    • Organizational Strucrure
    • Researcher
    • Partner
    • Facilities
  • Events
    • Conference
    • Seminar
    • Training
    • Workshop
  • Publication
    • Journal Population
  • Media
    • Press Release
    • Essay & Opinion
    • Gallery
    • Media Archives
  • Contact Us
  • Home
  • Media

Penduduk RI Makin Banyak Gara-gara Otonomi Daerah

  • Media
  • 21 July 2014, 10.09
  • By : admin

Jakarta, Detik Finance -Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal mengungkapkan, salah satu penyebab masalah lonjakan pertumbuhan penduduk (LPP) Indonesia adalah program otonomi daerah. Sistem desentralisasi ini membuat pemerintah daerah (pemda) tidak memberikan perhatian khusus kepada program kependudukan di daerahnya.

"Lonjakan penduduk di Indonesia persisnya terjadi sejak tahun 2002. Karena kan kita pakai sistem otonomi daerah atau desentralisasi. Sistem ini belum banyak memperharikan kependudukan, karena dianggap Pemda sebagai isu jangka panjang," ungkap Fasli kepada detikFinance, Jumat (18/07/2014).

Dilihat dari statistik BKKBN, kesuksesan pemerintah menahan lonjakan penduduk dari tahun ke tahun semakin rendah. Seperti sensus penduduk periode tahun 1970-1980, terlihat keberhasilan pemerintah menahan LPP mencapai 2,31 persen. Pada periode 1980-1990 turun menjadi 1,9 persen, dan berlanjut di tahun 1990-2000 menjadi 1,49 persen. Pada periode 2000-2010, keberhasilan pemerintah menahan lonjakan penduduk rata-rata hanya 1,45 persen.

Selain itu, dijelaskan Fasli, Pemda lebih memilih mengalokasikan anggaran pendapatan belanja daerah (APBD) untuk menyelesaikan program kerja jangka pendek, seperti pembangunan infrastruktur dan lainnya. Sehingga porsi Pemda untuk merencanakan, bahkan menahan lonjakan jumlah penduduk sangat kecil.

"APBD juga harus mendukung, sehingga lebih mudah menggerakan camat dan desanya. Kita harus rayu pasangan produktif yang jumlahnya 46 juta. Sekarang itu di daerah honor nggak ada, biaya operasional tidak ada, dan peran camat tidak seperti dulu lagi, lebih memperhatikan pembangunan infrastruktur. Jadi program penduduk bukan menjadi prioritas," tuturnya.

Kondisi ini jelas jauh berbeda sebelum masuk era 2000-an. Saat itu seluruh program baik perencanaan pendudukan dan lainnya dikendalikan sepenuhnya oleh pemerintah pusat. Sehingga pemerintah pusat lebih mudah mengambil kebijakan.

"Kalau dulu memang BKKBN mandat yang kuat sebagai badan koordinasi perencanaan keluarga nasional, yang didukung pemerintah pusat seperti Bappenas, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Dalam Negeri. Lalu sistem yang sangat sentralistris, dan punya pegawai yang sampai di depan rumah pasangan usia subur namanya PPLKB (Petugas Lapangan Keluarga Berencana itu). Itu baru efektif menahan lonjakan jumlah penduduk," paparnya.

Jumlah penduduk Indonesia saat ini mencapai 246 juta jiwa, dan jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Bukan tidak mungkin, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2035 mencapai 343 juta jiwa. [] Wiji Nurhayat

*Sumber: Detik Finance | Foto: Tribunnews

Tags: APBD BKKBN desentralisasi Fasli Jalal Kependudukan lonjakan pertumbuhan penduduk otonomi daerah PPLKB

Related Posts

[Media Archives] Pemerintah Diminta Perbaiki Identitas Eks Gafatar

Media Wednesday, 3 February 2016

Jakarta, CNN Indonesia – Ratusan warga eks Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang dipindahkan Pemerintah dari Kalimantan mengalami kendala saat mengurus status kependudukan mereka di lokasi tujuan.

[SIARAN PERS] PROSES PEMBANGUNAN KINI BISA TERUKUR: IPBK DIY Tertinggi Nasional

MediaPress Release Sunday, 18 October 2015

Yogyakarta, PSKK UGM – Pengukuran Indeks Pembangunan Berwawasan Kependudukan (IPBK) di Indonesia yang dilakukan oleh Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan Universitas Gadjah Mada menunjukkan, Daerah Istimewa Yogyakarta berada pada peringkat pertama dengan nilai indeks, 0,61.

Revolusi Mental Ber-KB | Oleh: Razali Ritonga

Media Wednesday, 1 July 2015

Metrotvnews.com — PRESIDEN Jokowi tentang Revolusi Mental di harian Kompas (10/5/2014) menyebutkan bahwa hasil pembangunan yang belum optimal yang diselenggarakan pemerintah terutama diakibatkan mental bangsa yang belum berubah sejak era Orde Baru.

BONUS DEMOGRAFI: Perumusan Kebijakan Perlu Sesuaikan Kondisi Tiap Wilayah

Media Friday, 20 March 2015

Yogyakarta, PSKK UGM — Selain pembacaan isu dalam aspek geoekonomi, geopolitik maupun agenda paska 2015 dan perubahan iklim, isu bonus demografi juga menjadi pembahasan penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019.
Universitas Gadjah Mada

CENTER FOR POPULATION AND POLICY STUDIES

Universitas Gadjah Mada

Jl. Tevesia, Bulaksumur, Sleman, Yogyakarta

Email: secretary_cpps@ugm.ac.id

Telp: (0274) 547867

Fax: (0274) 556563

Association and Partnership

Association

Partnership

  • Universities
  • Government
  • Private Companies
  • Non-governmental Organizations
  • Donor Institutions & UN Organizations

© 2017 Center for Population and Policy Studies Universitas Gajah Mada