Studi Akses & Dampak Program Perlindungan Sosial Bagi Pekerja yang Hidup dengan HIV dan Rumah Tangganya di Indonesia

24 Oktober 2013 | admin
Project At Glance
Country Indonesia
Region Surabaya, Malang, Provinsi Jawa Timur, serta Denpasar, Provinsi Bali
Name of Client ILO Indonesia
Address Kantor Perwakilan ILO di Jakarta Menara Thamrin, Level 22. Jalan M.H. Thamrin, Kav. 3. Jakarta 10250
Duration of Assignment 4 bulan
Start Date Juli 2013
Completion Date Oktober 2013
Prinsipal Investigator Dr. Dewi Haryani Susilastuti
Principal Investigator (Not on the list)
Research Team Mulyadi Sumarto, Ph.D., Sri Purwatiningsih, S.Si., M.Kes., Emil Karmila, M.Dev. Ph.D (cand)
Research Team (not on the list)
Profiles of Professional Staff Provided by The Center Pakar Kebijakan Publik (Program Perlindungan Sosial), Pakar Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Reproduksi dan Gender)

Menurut penelitian ILO pada 2013 lalu, meskipun perkembangan yang cukup besar dalam sistem perlindungan sosial di Indonesia, ada tantangan yang dihadapi oleh orang yang hidup dengan HIV (ODHA) dan populasi yang rentan terpapar HIV (KAP) dalam mengakses perlindungan sosial. Penelitian ILO itu menilai tingkat akses dan efek perlindungan sosial pada pekerja yang hidup dengan HIV. dan rumah tangga mereka. Program perlindungan sosial di Indonesia untuk pekerja di sektor publik atau swasta formal sudah cukup terstruktur, tetapi kurang berkembang untuk pekerja di sektor informal. Di antara responden ODHA yang memiliki asuransi kesehatan, 41 persen bekerja di ekonomi formal, 31 persen di ekonomi informal, dan 28 persen adalah pensiunan atau pengangguran yang sedang mencari pekerjaan. Layanan perlindungan sosial seperti bantuan tunai bersyarat dan tanpa syarat, pemberian raskin (beras miskin), kurang dimanfaatkan oleh ODHA karena tidak adanya kartu identitas, prosedur administrasi yang rumit, dan stigma sosial. Akibatnya, hanya 13 persen pekerja seks, dan 21 persen transgender yang mampu mengakses layanan kesehatan. Beberapa responden transgender bahkan menghindari layanan kesehatan sebagai bentuk antisipasi diri menghadapi perlakuan yang kurang baik oleh penyedia layanan kesehatan. Aktivis LSM dan kelompok dukungan sebaya memainkan peran kunci dalam membantu ODHA untuk mengakses program-program perlindungan sosial yang tersedia, khususnya pelayanan kesehatan. Keluarga dan / atau teman-teman juga memberikan dukungan yang berharga bagi ODHA: 42 persen keuangan, 27 persen barang dan jasa, dan 22 persen untuk logistik. Di antara para ODHA yang telah mampu mengakses layanan perlindungan sosial yang berbeda, mereka melaporkan manfaat ekonomi dan kesehatan yang positif. Secara khusus, mereka dan keluarga mereka dapat memperoleh pelayanan kesehatan yang dibutuhkan, dengan kesehatan mereka yang terjaga, mereka dan mitra mereka mampu tetap bekerja untuk mendapatkan pendapatan, dan menyekolahkan anak-anaknya. Selain  upaya pemerintah, ada perlindungan sosial yang menguntungkan pekerja khususnya di sektor formal. Ada kebutuhan untuk mengatasi hambatan (prosedur, stigma dan diskriminasi, gender) yang dihadapi oleh ODHA dan masyarakat yang menjadi korban dalam mengakses skema yang ada. Pentingnya peran LSM, keluarga dan teman-teman, pemerintah kemudian bisa memperkuat kerjasama dengan pihak-pihak tersebut di dalam menjalankan program perlindungan sosial.

Deskripsi belum tersedia