POPULASI Volume 23 Nomor 1 Tahun 2015

13 April 2016 - 16:46:15 | admin

Bonus Demografi Sebagai Mesin Pertumbuhan Ekonomi: Jendela Peluang atau Jendela Bencana di Indonesia?

Wasisto Raharjo Jati (Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia/LIPI)

Intisari
Tulisan ini menganalisis korelasi bonus demografi dengan pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Bonus demografi diasumsikan dapat mendongkrak perekonomian nasional melalui pertumbuhan tenaga kerja produktif. Dalam kasus Indonesia, bonus demografi belum dioptimalkan secara maksimal karena kebijakan pemerintah yang setengah hati. Ekonomi Indonesia tumbuh melalui konsumsi kelas menengah yang didapat dari bonus demografi. Namun, konsumsi perlu diimbang dengan produktivitas sehingga Indonesia terhindar dari jebakan negara berpenghasilan menengah. Tulisan ini akan mengelaborasi lebih lanjut bonus demografi dalam konteks perekonomian Indonesia.

Kata kunci: bonus demografi, pertumbuhan ekonomi, dan kelas menengah

Pengambilan Keputusan Penggunaan Alat Kontrasepsi Istri dalam Keluarga
Setiadi (Dosen Antropologi, FIB UGM), Lilik Iswanto (Mantan Asisten Peneliti PSKK UGM)

Intisari
Salah satu kunsi kesuksesan keluarga berencana adalah partisipasi para istri dan suami dalam pemakaian kontrasepsi. Penggunaan kontrasepsi selama ini masih didominasi oleh istri. Pembuatan keputusan dalam pemakaian kontrasepsi oleh istri dipengaruhi oleh beberapa faktor. Tingkat pengetahuan dan pengalaman pemakaian kontrasepsi akan mempengaruhi pembuatan keputusan. Banyak istri tidak mengetahui jenis kontrasepsi yang terbaik buat dirinya dan bagaimana kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode kontrasepsi. Faktor istri yang bekerja di luar rumah mempunyai pengaruh dalam meningkatnya determinan sang istri dalam pembuatan keputusan. Dalam kelompok umur di atas 24 tahun, istri juga memiliki peran yang cukup kuat. Demikian juga, determinasi pengambilan keputusan masalah-masalah dalam keluarga baik oleh istri atau bersama-sama dengan berkontribusi besar akan meningkatkan kemampuan istri untuk mengambil keputusan dalam pemakaian kontrasepsi.

Kata kunci: pengambilan keputusan, keluarga berencana

Tren Pemakaian Alat Kontrasepsi di Indonesia 1991-2012
Sumini (Peneliti PSKK UGM) dan Yam’ah Tsalatsa (Dosen Akademi Sekretaris dan Manajemen Desanta)

Intisari
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tren pemakaian alat kontrasepsi di Indonesia dalam kurun waktu 1991-2012 yang dibedakan sebelum reformasi (tahun 1991-1997) dan setelah reformasi (tahun 2002/3-2012). Analisis menggunakan data dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 1991, 1997, 2002/2003, dan 2012. Sampel yang digunakan adalah wanita kawin usia 15-49 tahun. Pembahasan berdasarkan dua periode, yaitu 1991-1997 dan 2002/2003-201. Penelitian ini menemukan adanya peningkatan pemakaian kontrasepsi yang cukup signifikan pada periode 1991-1997 tetapi peningkatan tidak cukup berarti dari tahun 2002/2003 hingga 2012. Kondisi ini berkorelasi dengan tren TFR di kedua periode tersebut. Perbedaan tren ini berkaitan dengan perbedaan pelaksanaan program KB di tiap daerah. Dua jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan sejak tahun 1991 hingga 2012 adalah pil dan suntik. Namun tren pemakaian suntik terus meningkat, sedangkan pil mengalami penurunan. Penelitian ini juga menemukan bahwa dinamika pemakaian kontrasepsi modern terus meningkat, tetapi pada saat yang bersamaan, pemakaian cara tradisional juga tetap bertahan. Pemakaian kontrasepsi modern ditemukan menurun di sebagian kecil provinsi, seperti DIY, Bali, NTT, dan Maluku.

Kata kunci: alat kontrasepsi, pil dan suntik, keluarga berencana

The Inhibiting Factors of Fertility Rate Decrease and the Direction of Family Planning Program Revitalization
Muhadjir Darwin (Profesor Fisipol UGM), Dewi Haryani Susilastuti (Dosen Pascasarjana UGM), Yam’ah Tsalatsa (Dosen Akademi Sekretaris dan Manajemen Indonesia), Triyastuti Setianingrum (Peneliti PSKK UGM), and Sumini (Peneliti PSKK UGM).

Intisari
Tulisan ini menganalisis stagnansi penurunan angka kelahiran di Indonesia. Keseimbangan penduduk salah satunya dapat dicapai dengan mengontrol angka kelahiran. Namun, Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2012 mengungkapkan tentang jumlah kelahiran yang tidak jauh berbeda dengan survei tahun 2002 dan 2007. Di samping itu, terdapat faktor-faktor seperti pergeseran paradigma politik di negara berkembang, perubahan tata kelola pemerintah daerah dan perubahan institusional yang mempengaruhi stagnansi dalam menurunkan angka kelahiran. Rekomendasi tulisan ini adalah perlu menemukan cara dalam mengakomodasi keseimbagan antara sistem demokrasi dan efektivitas capaian. Selain itu penurunan angka kelahiran juga memerlukan keseriusan dan keikutsertaan pemerintah daerah dalam berpartisipasi. Untuk tujuan ini, model pendekatan kultural dan sosiologis dapat digunakan sebagai alternatif dalam mempengaruhi perilaku masyarakat.

Kata kunci: stagnansi TFR, kontrasepsi, keluarga berencana, desentralisasi

Siasat Bertahan, Model Pengelolaan Remitansi, dan Usaha Mikro Keluarga Buruh Migran
Paulus Rudolf Yuniarto (Peneliti Bidang Perkembangan Asia Pasifik, PSDR-LIPI)

Intisari
Tulisan ini menjelaskan pemahaman para tenaga kerja migran terhadap masalah, terutama yang terkait dengan kehidupan keseharian mereka, juga strategi mereka untuk memecahkan masalah-masalah yang muncul. Data yang digunakan sebagai dasar dalam penelitian ini adalah observasi dan wawancara terhadap keluarga tenaga kerja migran di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Remitan dari migran, strategi mengatasi masalah dalam rumah tangga, dan institusi lokal adalah hal-hal yang penting diketahui untuk mendapatkan pemahaman yang menyeluruh terhadap isu tenaga kerja migran. Hal-hal inilah yang perlu diketahui oleh organisasi tenaga kerja migran yang ada. Memahami persoalan tentang kondisi migran yang sebenarnya akan berimplikasi pada pengorganisasian mereka agar dapat menjadi aset di masa depan.

Kata kunci: remitan migran, strategi mengatasi masalah rumah tangga, institusi lokal

Do Remittances “Make It” for Members Left Behind? Urban to Rural Remittances by Migrants in Four Indonesian Cities
Tadjuddin Noer Effendi (Professor, Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Gadjah Mada)

Intisari
Paper ini menelaah sifat, luas, dan akibat remitan yang dikirim oleh migran urban ke desa asal. Secara khusus ia menelaah: besarnya remitan, tipe dan latar belakang migran yang mengirim remitan, besarnya remitan yang dikirim, dan penggunaan remitan. Studi ini dilakukan di empat kota besar di Indonesia yang mengalami masuknya sejumlah besar migran rural-urban dalam beberapa dekade yang lalu: Tangerang di Banten, Samarinda di Kalimantan Timur, Medan di Sumatra Utara and Makassar di Sulawesi Selatan. Menggunakan data survei yang dikumpulkan tahun 2008-2009, studi ini menemukan bahwa sepanjang waktu migran rural-urban mempunyai kesempatan untuk menyimpan bagian dari pendapatan mereka yang pada akhirnya remitan tersebut mereka kirimkan ke kampung halaman mereka. Migran rural-urban tampaknya membutuhkan usia yang lebih tua dan mencapai level pendapatan tertentu sebelum mulai mengirimkan remitan. Secara statistik, usia merupakan satu di antara latar belakang pribadi yang memiliki pengaruh yang kuat bagi kecenderungan untuk mengirim atau tidak mengirim remitan. Salah satu dimensi sosial migrasi rural-urban yang penting di banyak negara berkembang adalah akibatnya bagi anggota keluarga, khususnya anggota keluarga atau anak-anak yang ditinggalkan di desa. Hal ini tidak berlaku di empat kota yang diteliti, di mana banyak migran urban-rural ditemani anggota keluarga mereka (istri dan anak-anak) di kota.

Kata kunci: migran rural-urban, remitan, anggota keluarga

REVIU BUKU: Pertarungan antara Keahlian dan Kepentingan, serta Implikasinya pada Kebijakan: Pelajaran dari Amerika Serikat
Oto Adi Yulianto (Kepala Biro Penelitian dan Pengembangan ELSAM Jakarta)

1478493998_41jq00y2nhl-_sx322_bo1204203200_

Data Buku

Judul: Think tanks, Public Policy, and the Politics of Expertise
Penulis: Andrew Rich
Penerbit: Cambridge University Press
Cetakan: Pertama, 2004
Tebal: 258 hal

Kajian terhadap think tanks relatif jarang dilakukan selama lebih dari 30 tahun terakhir. Selain karena adanya bias dari ilmuwan sosial, kurangnya perhatian dan kajian ini juga berhubungan dengan karakter tradisional think tanks, yang cenderung bersifat low profile. Berdasar catatan Andrew Rich, sejak tahun 1970 sangat sedikit buku yang membahas persoalan think tanks, terutama di Amerika Serikat. Tidak ada artikel yang khusus membahas tentang think tanks, baik dalam jurnal ilmu politik maupun sosiologi, seperti American Political Science Review, American Journal of Political Science, maupun Journal of Politics di seperempat abad terakhir (h. 6). Oleh karenanya, buku karya Andrew Rich ini (terbit tahun 2004) menjadi menarik. Selain mengisi kurangnya literatur tentang think tanks dan perkembangannya, buku ini juga berusaha menjelaskan pengaruh think tanks dalam pembuatan kebijakan domestik di Amerika Serikat. []

—–

*Info selengkapnya mengenai Jurnal Populasi edisi ini, silakan buka tautan berikut: Populasi Vol. 23 No. 1 Tahun 2015