PEKERJA MIGRAN DAN SEKSUALITAS

26 Juni 2003 - 15:27:02 | admin

Posisi Indonesia dalam peta migrasi lintas batas di kawasan Asia Tenggara dan Mekong adalah merupakan negara pengirim. Dengan penduduk lebih dari 205 juta jiwa yang setelah diterpa krisis ekonomi yang besar dan panjang sekitar 37 juta (18,4 persen) penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan. Jumlah pengangguran di Indonesia juga tergolong cukup tinggi. Dari seluruh angkatan kerja, tingkat pengangguran mencapai 8,1 persen (BPS, 2001). Sebagai akibat dari kondisi tersebut, maka Indonesia menjadi negara pengirim tenaga kerja ke negara-negara lain yang lebih makmur. Paper ini secara khusus mendiskusikan migrasi internasional penduduk Indonesia, terutama ke Malaysia. Konsentrasi diberikan terhadap migrasi lintas batas ke Malaysia mengingat besarnya jumlah migran Indonesia yang bekerja di sana dan banyaknya permasalahan yang timbul di sekitar migrasi lintas batas tersebut.

Sebagian besar migrasi dari Indonesia ke Malaysia bersifat ilegal. Sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pekerja kasar di pabrik atau perkebunan, dan sebagai pembantu rumah tangga. Segera bisa diketahui bahwa karena sebagian besar migran mempunyai latar belakang sosial-ekonomi yang rendah dan masuk ke sektor pekerjaan yang rentan, maka migrasi lintas batas yang dilakukan penduduk Indonesia ke Malaysia sarat dengan masalah, seperti menjadi obyek trafficking, korban kekerasan, termasuk kekerasan seksual. Meskipun pemerintah mengakui kontribusi para pekerja migran tersebut besar terhadap perolehan devisa Indonesia, perhatian pemerintah terhadap berbagai masalah yang mereka hadapi sebagai migran belum cukup memadai. Pemerintah Malaysia pun cenderung bersikap diskriminatif dan kurang memperhatikan aspek-aspek kemanusiaan dalam menangani masalah pekerja Indonesia di negara mereka. []


*Klik untuk mengunduh makalah: Seminar Bulanan S.322 – Muhadjir Darwin | 26 Juni 2003