MIGRAN KEMBALI: Permasalahan Reintegrasi Sosial dan Ekonomi

12 Juli 2001 - 16:58:45 | admin

“Lebih baik hujan emas di negeri orang daripada hujan batu di negeri sendiri”

“76,7 persen migran kembali cenderung memilih tinggal di luar negeri dan memilih negara tempat
kerja sebagai tempat tinggal”

“Saya akan pergi ke luar negeri lagi walaupun suami saya tidak mengijikan. Saya sudah memiliki
kenalan yang bisa mencarikan surat-surat dan dengan status Janda, ijin suami tidak diperlukan”
“Paribasane mbotena diopeni bojo, kula saged golek pangan dhewe “ 
(Ibaratkan tidak diperhatikan oleh suami, saya bisa mencari makan sendiri).

Keempat kutipan tersebut merupakan gambaran aspirasi yang berkembang dalam tingkat individu migran. Tampak bahwa proses migrasi perempuan ke luar negeri memiliki implikasi-implikasi yang tidak hanya bersifat ekonomi tetapi juga sosial-budaya yakni terkait dengan nilai-nilai yang dipegang dalam kehidupan. Secara jelas tampak bahwa migrasi memiliki implikasi baik pada tingkat rumah tangga maupun komunitas. Penguasaan materi (uang) oleh sebagian perempuan migran dijadikan landasan untuk meningkatkan kemampuan tawar menawar dengan orang lain. Fenomena tersebut perlu untuk dikaji secara lebih mendalam mengingat semakin pentingnya kedudukan perempuan dalam konteks migrasi internasional. Fenomena feminisasi migrasi internasional merupakan suatu hal yang tidak terbantahkan (Castles dan Miller, 1993: 8) serta menunjukkan keterlibatan yang cukup intens dalam berbagai bentuk dan proses migrasi.

Dalam konteks Indonesia, fenomena migrasi perempuan ke luar negeri mengagendakan permasalahan yang cukup krusial baik bagi mereka yang terlibat dalam pengambilan kebijakan maupun yang meneliti berbagai proses migrasi itu sendiri. Paper ini akan menguraikan bagaimana berbagai perubahan aspirasi migran perempuan mempengaruhi proses reintegrasi sosial dan ekonomi dalam konteks kehidupan keluarga/rumah tangga dan komunitas asal.[]


*Klik untuk mengunduh makalah: Seminar Bulanan S.303 – Dr. Setiadi | 12 Juli 2001