Sumbangan & Solidaritas Sosial: Jerat Kultural Masyarakat Pedesaan Jawa

20 June 2002 - 19:07:11 | admin

“Nek wis dipunjung/ditonjok, gelem ora gelem kudhu nyumbang. Nek wis ngono, mung mumet sirahe” (kalau sudah diantar makanan/punjungan ke rumah, mau tidak mau harus memberikan sumbangan. Kalau sudah begitu, pusing kepala ini memikirkan darimana dapat uang).”

Beberapa tulisan klasik tentang kebudayaan Jawa, banyak mengemukakan bahwa masyarakat pedesaan Jawa hidup dalam keharmonisan dan penuh dengan kegiatan tolong menolong. Koentjaraningrat (1974) menjelaskan bahwa hubungan resiprositas sangat kuat di pedesaan Jawa. Di daerah pedesaan Jawa, suatu rumah tangga pertama-tama harus menjaga hubungan yang baik dengan tetangga sekitarnya, kemudian dengan keluarga-keluarga lain sedukuh dan baru kemudian dengan keluarga lain yang tinggal di dukuh-dukuh lain. Penekanan hubungan baik dengan tetangga yang harus dipupuk pertama kali menandakan bahwa peran dan fungsi tetangga sangat penting bagi masyarakat pedesaan. Jalinan hubungan baik itu bahkan harus mengalahkan hubungan baik dengan kerabat yang berada di tempat yang lebih jauh.

Sebagai wujud hubungan baik mereka nyatakan dengan berbagai cara bergotong royong dan tolong menolong misalnya mengundang dan mengirimkan makanan apabila mengadakan slametan, membawakan oleh-oleh kalau bepergian jauh, dan melakukan sambat sinambat untuk pekerjaan-pekerjaan di sekitar rumah dan pertanian. Selain itu, mereka juga melakukan kegiatan tetulung layat ketika mereka mengalami musibah kematian dan sakit. Memberikan sumbangan ketika ada salah seorang tetangga maupun kerabat yang sedang punya hajat bahkan telah menjadi semacam keharusan. Hal yang sama juga ditemukan Jay (1969) dalam penelitiannya di Jawa Timur, dimana kegiatan tolong menolong sangat tinggi intensitasnya, baik di sektor pertanian maupun di lingkungan rumah tangga. Selain dalam bentuk barang, tolong menolong juga diwujudkan dalam bentuk tenaga seperti rewang, saya dan genten

Tulisan ini ingin membahas lebih lanjut salah satu kegiatan tolong menolong yakni kegiatan sumbang menyumbang sebagai perwujudan solidaritas sosial di pedesaan Jawa. Fenomena sumbang menyumbang merupakan topik menarik, karena; pertama, tulisan dan analisis mendalam tentang aktivitas ini belum begitu banyak dilakukan; kedua, aktivitas sumbangan telah menjadi “sebuah keharusan” yang memaksa warga masyarakat untuk melakukan hal itu, sekalipun dalam kondisi sosial ekonomi yang terbatas; ketiga, aktivitas sumbang menyumbang telah menjadi sebuah ritus sakral yang menjebak masyarakat dalam lingkaran yang dibuatnya sendiri. Untuk menjelaskan fenomena sumbangan, tulisan ini didasarkan pada hasil penelitian intensif di bekas wilayah Kelurahan Kedungmiri, Imogiri, Yogyakarta.


*Klik untuk mengunduh makalah: Seminar Bulanan S.312 – Pande Made Kutanegara | 20 Juni 2002